Sabtu, 28 Agustus 2010

Pekerja Kantoran, Awas SBS!

Riset yang dilakukan National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) tahun 1997 mengungkap, sebanyak 52 persen pekerja di Amerika Serikat mengalami gangguan kesehatan, seperti: sakit kepala, badan cepat letih, perut kembung, hidung berair, tenggorokan gatal, sulit berkonsentrasi, serta batuk kering. Sebagian ahli menyangka, para pekerja ini mengalami stres. Kenyataannya, mereka menderita penyakit khas pekerja kantoran yang disebut Sick Building Syndrome (SBS).

SBS tidak cuma ada di Amerika, namun juga menimpa banyak pekerja di seluruh dunia. Mereka umumnya banyak menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam ruangan, di gedung bertingkat tinggi. Para pakar menduga, penyebab SBS adalah kurangnya jumlah ventilasi dan kinerja AC yang buruk. Kondisi ini menyebabkan bakteri-bakteri merugikan, seperti chlamydia, escgriachia, dan legionella spleluasa bebas bergerilya. Sementara, faktor lainnya adalah pencemaran zat kimia, seperti pengharum ruangan.

Hasil penelitian terhadap karyawan 11 perusahaan di Jakarta mengungkapkan, asupan antioksidan dapat meringankan SBS. Begitu juga dengan olahraga secara teratur. Jika terus dibiarkan, SBS akan menyebabkan para pekerja menjadi stres karena harus beraktivitas di dalam ruangan yang berbahaya bagi kesehatan.

Sabtu, 21 Agustus 2010

Puasa Juga Bikin Awet Muda


Puasa memberikan banyak manfaat; selain belajar menahan godaan, juga untuk menurunkan berat badan. Contohnya seperti yang dilakukan umat muslim pada bulan Ramadhan, atau umat nasrani yang mulai memasuki masa puasa dan pantang hari ini, Rabu (17/2/2010). Bahkan, akan lebih baik bila puasa dilakukan secara rutin, tak cuma menjelang hari raya Lebaran atau Paskah.

Hal ini sudah dibuktikan dari penelitian yang dilakukan University of California. Hasil studi menunjukkan, pembatasan jumlah kalori, khususnya ketika berselang-seling (tiap dua hari sekali), dapat menurunkan risiko penyakit jantung dan kanker, dan menurunkan berat badan.

Menurut Dr Kritsa Varady, yang memimpin sebuah studi mengenai kelebihan berat badan dan obesitas di University of Illinois, Chicago, setelah 8 minggu melakukan puasa selang-seling, terlihat penurunan kadar kolesterol darah pada responden. Perbaikan kondisi kesehatan lain yang terlihat adalah menurunnya tekanan darah, detak jantung, dan lemak yang ditemukan dalam tubuh.

"Semua ini kan kunci risiko penyakit jantung, jadi tidak hanya membantu menurunkan berat badan, tetapi juga mengurangi risiko penyakit jantung koroner," jelasnya.

Puasa yang dianjurkan oleh penelitian ini adalah, menetapkan "hari makan", dimana tidak ada pembatasan makanan. Selanjutnya adalah "hari puasa", dimana kita hanya mengonsumsi 25 persen dari porsi makan kita yang biasa (atau kurang). Jadi, makan siang pun harus ringan.

Dari penelitian tersebut, selama 8 minggu mereka yang mengikuti tes telah kehilangan berat badan sebanyak 8 persen. Jadi, kalau misalnya berat badan Anda 65 kg, dalam 8 minggu berat Anda akan turun 5,2 kg. Lumayan, bukan? Kadar kolesterol jahat juga akan menurun.

Para dokter sebenarnya tidak mengetahui mengapa cara ini berhasil. Diperkirakan, puasa memberi pengaruh menguntungkan dalam mendistribusikan lemak yang tersimpan di dalam tubuh. Puasa juga terbukti mempengaruhi kadar insulin, suhu tubuh, dan menurunkan tingkat stres.

Dari penelitiannya, tim Dr Varady mendapati bahwa puasa memicu gen yang memproduksi sel-sel baru, dan mencegah sel-sel mati sebelum waktunya. Dr James Johnson, yang memimpin studi ini, mengatakan, "Gen ini juga dapat memperlambat proses penuaan, dengan mengurangi risiko penyakit yang berkaitan dengan usia dan ancaman kesehatan."

Kamis, 12 Agustus 2010

Nafsu Makan Bisa Menipu!


Nafsu makan ternyata bisa menipu. Kita mengira diri kita lapar, padahal sebenarnya kita sedang mengalami kondisi yang sangat berbeda. Menurut Brooke Joanna Benlifer, RD, lulusan Cornell University yang juga pakar diet, membedakan antara lapar "palsu" dan lapar yang sebenarnya, penting untuk mengetahui kapan tubuh Anda benar-benar membutuhkan makanan, dan kapan membutuhkan yang lain.

1. Lapar karena makan makanan yang salah. Ingin tahu gejalanya? Yaitu ketika Anda ingin sekali makanan yang manis, dan merasa masih lapar setelah Anda makan. Makanan yang tinggi kandungan karbohidrat sederhana, namun tidak mengandung serat, protein, atau lemak sehat, akan memberikan rasa kenyang yang berlebihan, mungkin akan membuat gula darah Anda menurun. Kalau sudah begini, Anda perlu menyantap kudapan sehat, seperti buah segar atau kacang, keju cottage, selai kacang, atau setengah potong sandwich dari roti gandum.

2. Lapar mata. Kadang-kadang, nafsu makan kita bisa melonjak ketika kita merasa bosan, takut, gelisah, stres, atau kesepian. Akibatnya, bila sedang berada di restoran Anda akan cenderung memesan banyak makanan yang tak mampu Anda habiskan. Untuk mengalihkan perhatian, cobalah untuk jalan-jalan dulu, menulis pengalaman di blog, mendengarkan musik, menelepon teman, atau mengunyah permen karet. Bisa juga membaca buku, pergi ke perpustakaan, atau kemana pun yang membuat Anda tidak perlu makan.

3. Lapar karena mengantuk. Para ahli kesehatan dari WebMD.com menyatakan bahwa dua hormon utama, leptin dan ghrelin, dapat mempengaruhi dan mengontrol sensasi lapar dan kenyang. Ghrelin merangsang nafsu makan, sedangkan leptin (yang terbuat dari sel-sel lemak), memberi sinyal pada otak bahwa Anda sudah makan cukup banyak.

Kekurangan tidur menyebabkan tingkat hormon leptin menurun drastis, sehingga menyebabkan kenaikan tingkat ghrelin. Hal ini akan mengacaukan nafsu makan dan rasa kenyang tadi. Jika Anda tidur hanya 6 jam atau kurang setiap malam, Anda akan cenderung makan berlebihan esoknya. Sebab ketika mengalami kelalahan, orang cenderung banyak makan (yang seringkali tinggi kadar gulanya, namun kurang bergizi) untuk menambah energi. Makanan, dalam hal ini, hanya menyediakan rasa puas sementara. Tidak lama kemudian tingkat energi Anda kembali menurun, dan membangkitkan kembali rasa lapar.

Jika Anda merasa lapar menjelang sore, ada beberapa cara untuk menghentikan keinginan ngemil. Anda bisa jalan-jalan selama 10 menit (supaya mendapat udara segar, menggerakkan otot, dan meningkatkan sirkulasi), minum secangkir teh hijau (tinggi antioksidan dan rendah kafein), makan 1/4 cangkir almond dan sepotong kecil apel (tinggi protein, lemak dan karbohidrat sehat, rendah gula, dan sumber magnesium dan serat). Bisa juga menarik nafas panjang-panjang. Jika mengantuk, puas-puaskan menguap supaya mendapat asupan oksigen.

4. Lapar karena kehausan. Percaya tidak, kita sering menyalahartikan haus dengan lapar. Cobalah minum segelas atau dua gelas air untuk mengetahui apakah Anda memang lapar, atau karena kurang minum. Jika penyebabnya memang lapar, tanda-tandanya lebih jelas. Perut yang keroncongan membuat kita sulit berkonsentrasi. Jangan menunda makan hanya karena pekerjaan menumpuk. Makanlah secara teratur dan konsisten, untuk menjaga tingkat energi, dan menghindari gula darah turun.

Rabu, 04 Agustus 2010

Menu Apa yang Sehat untuk Sarapan?


Saat masih kecil dulu, orangtua seringkali memaksa agar kita menyantap sarapan sebelum mulai beraktivitas. Tapi, kini, seiring sibuknya kita mengejar waktu, tak jarang makan pagi yang sejatinya adalah waktu makan terpenting dalam sehari ini, terlewatkan.

Dalam buku Healthy Food for Healthy People karangan Peter C Kurniali dan Nugroho Abikusno M.D., Ph. D., dituliskan mengenai penelitian oleh Carnegie Foundation mengenai pentingnya sarapan. Menurut penelitian tersebut, diketahui bahwa anak-anak yang tidak sarapan akan mengalami kesulitan berkonsentrasi saat belajar di sekolah dan merasa gelisah menjelang siang hari. Hal ini terjadi karena otak perlu glukosa untuk dapat bekerja baik. Kalau tidak ada asupan, maka otaknya akan sulit untuk bekerja optimal.

Alasan lain yang sering digunakan orang untuk melewatkan sarapan adalah untuk menurunkan berat badan. Padahal, hal ini tidak sepenuhnya benar. Disebutkan pula dalam buku tadi, menurut penelitian Journal of Obesity Research di tahun 2002, pada 300 orang yang mengalami obesitas (kegemukan), diminta untuk rutin sarapan. Hasilnya, dalam waktu beberapa bulan, 80 persen dari para responden berhasil menurunkan berat badan secara signifikan.

Lalu, makanan apa yang baik untuk dimakan saat sarapan? Berikut adalah beberapa makanan yang dianjurkan oleh buku Healthy Food for Healthy People untuk sarapan:

1. Sereal bercampur susu. Meski terbilang "makanan orang barat", tapi nyatanya, makanan ini memang baik untuk dikonsumsi. Pasalnya, setiap 100 gram sereal terdapat 350 kilo kalori yang berguna untuk tubuh. Selain itu, zuzu memiliki kandungan gizi yang baik, dan karena paduannya ringan, maka makanan ini baik untuk mereka yang sulit sarapan karena sering merasa mual untuk makan di pagi hari.

2. Telur. Telur memiliki banyak kandungan yang baik untuk tubuh. Dari vitamin A dan B, zat besi, kalium, kalsium, dan zat gizi lain yang diperlukan tubuh. Anda bisa menggoreng atau merebus telur untuk sarapan.

3. Roti gandum. Roti gandum dioleskan selai kacang dan susu rendah lemak. Roti gandum baik untuk diet karena bisa membuat perut merasa kenyang lebih lama.

4. Jus buah. Campurkan dengan susu atau sedikit madu agar tubuh tetap segar. Menu buah disarankan oleh para penganut food combining.

Jika Anda tak terbiasa mengkonsumsi sarapan dalam jumlah banyak, coba ganti dengan mengkonsumsi makanan camilan yang sehat di waktu antara sarapan dan makan siang.