Minggu, 28 Maret 2010

7 Snack Sehat yang Wajib Dikonsumsi



Aktivitas di kantor yang padat terkadang membuat Anda kesulitan untuk mencari makanan yang memenuhi standar gizi. Padahal setidaknya ada 7 jenis zat gizi mikro yang seharusnya menjadi asupan kita sehari-hari. Memang akan sedikit sulit mengingat-ingat jenis zat gizi ini, karena itu akan lebih mudah jika Anda mengenali snack yang mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan ini.

1. Kalsium
Ingin gigi tetap kuat dan tulang tidak rapuh? Anda bisa mengonsumsi yogurt tawar, keju rendah lemak, dan setangkup kacang almond. Agar tidak bosan, campurkan yogurt dalam menu jus Anda, atau keju pada salad Anda, dan kacang almond ke dalam cokelat.

2. Potassium
Butuh cadangan energi dengan cepat? Anda bisa mendapatkannya pada buah melon oranye, jeruk, dan pisang. Makanlah sebagai buah segar, atau campurkan sebagai salad buah.

3. Magnesium
Magnesium menjaga tulang tetap padat dan kuat. Mineral ini bisa didapat dari biji gandum dan biji labu. Jika Anda suka minum susu, campurkan susu dengan biji gandum atau oatmeal. Bahkan jika Anda suka ngemil kuaci, Anda bisa menggantikan dengan kuaci dari biji labu untuk pilihan yang lebih sehat.

4. Serat
Sering sembelit? Pasti karena Anda kekurangan serat. Serat bisa diperoleh dari buah-buahan atau sayuran apa saja. Sayur atau buah yang crunchy seperti apel dan timun juga bisa menggantikan gorengan yang biasa Anda makan sore hari.

5. Vitamin A
Semua tentu tahu bahwa vitamin A bagus untuk mata. Vitamin A biasanya terdapat pada makanan yang berwarna cerah, seperti wortel, tomat, atau mangga.

6. Vitamin C
Kurang vitamin C kulit bisa kusam dan kering. Jeruk, strawberry, buah kiwi, bahkan pisang (pisang mengandung vitamin C, lho!) bisa jadi kudapan sehat. Kandungan vitamin C pada buah kiwi bahkan melebihi buah jeruk. Satu buah kiwi dalam sehari telah mencukupi kebutuhan vitamin C orang dewasa. Selain itu kiwi juga mengandung folat yang tinggi.

7. Vitamin E
Nah, ini rahasia kulit yang lembap dan mulus. Beberapa jenis makanan yang mengandung vitamin E antara lain kacang-kacangan (kacang tanah, almond, selai kacang), buah kiwi, mangga, alpukat, brokoli, dan bayam.

Kamis, 25 Maret 2010

6 Makanan Pembangkit Mood



Dalam sejumlah penelitian disebutkan mengenai makanan yang bisa mengembalikan mood baik Anda. Makanan ini menyebabkan metabolisme tubuh bekerja dengan baik, dan menghantarkan zat kimia yang dibutuhkan otak agar kita bisa merasa rileks dan memiliki energi yang cukup untuk menjalani hari-hari. Apa saja makanan yang dimaksud?

1. Sereal atau gandum
Sereal memang seringkali dijadikan makanan untuk menu sarapan kita. Ada sebabnya, lho. Gandum mengandung selenium yang menstimulasi kelenjar tiroid yang ada di leher, yang merupakan organ pengatur mood atau perasaan kita. Gandum juga mengandung serat yang baik dan menghambat penyerapan gula, sehingga menjaga kadar gula darah Anda.

Selain gandum, ada kacang merah, beras merah, kacang kedelai, dan kacang Brazil, yang juga memiliki fungsi yang sama.

2. Kacang kedelai atau kacang-kacangan
Sejumlah penelitian membuktikan bahwa rendahnya asupan folat dalam tubuh bisa memicu rasa depresi dan tidak tenang. Oleh karena itu cari sumber makanan yang memiliki folat. Contohnya, sereal, kacang polong hitam, kedelai, sawi, brokoli, biji bunga matahari, dan jeruk.

3. Ikan salmon liar
Ikan slamon bahkan yang kalengan sekalipun memiliki vitamin yang baik, yakni B12, yang oleh para ilmuwan dipercaya bisa memproduksi serotonin. Makanan lainnya yang mengandung serotonin adalah kerang, kepiting, kacang gandum, keju, yogurt, dan telur.

4. Yogurt
Vitamin D yang ada dalam yogurt bisa mencegah keropos tulang, penyakit jantung, kanker, diabetes, dan depresi. Sumber makanan lainnya adalah minyak hati ikan kod, ikan-ikanan seperti salmon, tuna, lobster dan udang, tahu, susu kedelai, dan jamur.

5. Kacang almond
Ingin makanan yang bisa mencegah fungsi hati, mencegah pikun, dan mencegah kanker? Cari makanan yang memiliki kandungan omega-3. Kacang almond bisa dijadikan camilan, atau ditaburkan di atas salad buatan Anda.

6. Dark chocolate
Apa yang terkandung di dalamnya? Vitamin A, yang bisa melepaskan hormon endorphin dalam tubuh kita, dan meningkatkan hormon serotonin yang membuat tubuh lebih nyaman dan tenang.

Jumat, 19 Maret 2010

5 Makanan Sehat untuk Jantung



Penyakit jantung merupakan pembunuh nomor satu di Amerika. Di Indonesia, penyakit ini termasuk pembunuh terbesar kedua setelah kanker. Pola makan adalah poin pertama yang dapat mencegah timbulnya penyakit ini. Ada empat jenis makanan yang sudah terbukti memang bisa menekan risiko penyakit jantung, yaitu:

1. Bawang putih. Sejumlah penelitian telah membuktikan sejumlah manfaat dari bumbu masak ini. Konsumsi teratur bawang putih bisa menurunkan penyakit darah tinggi, mencegah penggumpalan darah (penyebab stroke), mencegah kenaikan gula darah dan kadar kolesterol. Bawang putih juga dikenal mampu menurunkan atau menetralisasi pengaruh buruk dari garam.

2. Ikan salmon. Gantikan burger penuh lemak favorit Anda dengan potongan ikan salmon. Meskipun terkadang lemak baik untuk tubuh, tapi sebagian kecil dari lemak (dari konsumsi 1/2 potong burger setiap hari) akan menyebabkan penyumbatan di pembuluh darah arteri yang bisa meningkatkan resiko penyakit jantung. Sebaliknya, salmon akan menurunkan resiko tersebut, karena salmon mengandung omega-3 yang bisa mencegah debaran jantung yang terlalu cepat, mencegah atau menurunkan tingkat pelebaran pembuluh darah arteri, menambah jumlah lemak baik dalam tubuh, dan mencegah kolesterol terpecah dan menjadi sumbatan di arteri.

3. Buah berry dan chery. Buah-buahan ini bermanfaat karena memiliki sejenis zat yang bisa mencegah kerusakan sel yang bisa menyebabkan pembekuan atau penyumbatan pembuluh darah. Kalau Anda sulit mendapatkan buah berry (misalnya strawberry atau blueberry) atau buah chery, maka simpan dalam jumlah yang banyak jika tidak musim. Agar tidak bosan, campurkan dalam bubur gandum atau oatmeal, atau gunakan perasan sarinya. Buah berry juga baik untuk memperbaiki detak jantung Anda.

4. Beras merah. Beras merah merupakan sumber magnesium. Mineral ini (magnesium) bisa memperlancar aliran pembuluh darah. Kekurangan magnesium bisa menyebabkan penyakit hipertensi, serangan jantung, dan gangguan irama jantung. Nasi merah tidak perlu dimasak terlalu lama. Hidangkan bersama sayuran yang dipanggang, dan ayam panggang.

5. Minuman cokelat. Hobi minum kopi? Coba gantikan dengan segelas cokelat hangat. Cokelat hangat kaya dengan antioksidan. Bahkan jumlahnya bisa lebih banyak 3 kali lipat dari teh hijau.

Sabtu, 13 Maret 2010

Yang Miskin yang Berkorban


AP PHOTO/MOHAMMED SEENEEN
Presiden Maladewa Mohamed Nasheed menandatangani dokumen yang isinya mendesak semua negara untuk mengurangi emisinya menjelang Pertemuan Para Pihak Ke-15 (COP-15) pada Konferensi Perubahan Iklim PBB, bulan Desember di Kopenhagen, dengan menyelam 6 meter di bawah permukaan laut di Pantai Girifushi, Maladewa, Sabtu (17/10). Para menteri dengan peralatan selam melakukan rapat kabinet untuk menunjukkan kepada dunia ancaman tenggelam yang dihadapi Maladewa akibat naiknya permukaan muka laut sebagai salah satu dampak perubahan iklim.

Tinggal 26 hari lagi dunia akan menyaksikan ”drama” yang akan dikenang oleh umat manusia, setidaknya pada empat dekade mendatang. Drama itu bertema perubahan iklim dengan setting kota Kopenhagen, Denmark, 7-18 Desember 2009.

Skenario awal sudah dituliskan pada lebih dari 1.500 lembar kertas yang berisi berbagai butir kesepakatan yang diharapkan bisa disepakati semua parties (baca: negara) dari Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC). Lebih dari 90 negara akan berkumpul di Kopenhagen berharap mendapatkan jawaban tentang apa yang akan dilakukan secara bersama untuk menghadapi tantangan perubahan iklim.

Persoalannya, negara kaya yang tergabung dalam kelompok Annex 1 malah mulai bergeser mundur, meminta agar kesepakatan yang dibuat bersifat tidak mengikat.

Negara-negara Annex 1 termasuk negara dengan ekonomi dalam transisi dari laporan tentang emisi gas rumah kaca (GRK) yang teranyar tahun ini—jika dihitung dengan memasukkan penggunaan lahan, perubahan penggunaan lahan, dan deforestasi—ternyata pengurangan emisi agregat dibanding tahun 1990 mencapai 5,2 per sen dari 17.459,6 Triliun gram CO2 ekuivalen menjadi 16.547,1 Tg CO2 ekuivalen (UNFCCC, 2009).

Sementara itu, negara-negara Annex 1 nonnegaraa dengan transisi ekonomi, yang pada Protokol Kyoto 1997 dikenai kewajiban untuk mengurangi emisi karbonnya ternyata total emisi agregat termasuk penggunaan lahan, perubahan penggunaan lahan, dan deforestasi (LULUCF) meningkat 11,2 persen pada kurun 1990-2007, sementara jika faktor LULUCF dimasukkan, emisinya naik 12,8 persen.

Kesulitan mengurangi emisi tersebut mendorong berbagai negara untuk memperkenalkan berbagai skema yang kemudian berujung pada perdagangan karbon yang ternyata oleh sejumlah negara ditolak.

Senat Amerika Serikat telah meloloskan undang-undang mengenai perubahan iklim—dengan undang-undang itu AS akan mengurangi emisi karbonnya hingga 20 persen dengan basis tahun 1990 pada tahun 2020.

Tegangan kaya-miskin

Dalam hiruk-pikuk perundingan bersama untuk mengatasi persoalan perubahan iklim, tegangan kaya-miskin semakin hari semakin meruncing.

Para perunding dan diplomat yang bertemu di Barcelona, Spanyol, ternyata belum mendapatkan kesepakatan baru. Bahkan terjadi gap yang semakin lebar antara negara miskin dan kaya.

”Pekerjaan ini tidak selesai, jauh dari harapan,” ujar negosiator dari Sudan, Lumumba Stanislaus Di-Aping, Ketua Group 77 dan China yang mewakili negara-negara miskin.

Bahkan sejumlah negara telah mengatakan tidak bersedia menandatangani kesepakatan yang mengikat—seperti Protokol Kyoto yang mewajibkan negara-negara Annex 1 mengurangi emisinya. Sebaliknya mereka justru mendorong adanya kesepakatan politis untuk mengurangi emisi karbon.

”Semua negara anggota G-77 dan China juga Afrika sudah berseru meminta negara maju mengurangi emisi, tetapi mereka menolak. Mereka bahkan meminta kami mengulur waktu sampai enam bulan,” tambah Di-Aping seperti dikutip Reuters. Adapun Amerika Serikat juga dikritik karena tidak menawarkan angka penurunan emisi secara tegas.

Padahal, semula Pertemuan Para Pihak Ke-15 (COP-15) pada Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen tersebut dijadikan batas waktu adanya kesepakatan baru pengganti Protokol Kyoto. Pada perundingan di Barcelona, delegasi negara-negara Afrika sampai-sampai melakukan walk-out dan memboikot pertemuan.

”Ini fase sulit. Saya rasa semua pihak harus memainkan lagi perannya untuk dapat membuat kesepakatan mengikat yang kuat di Kopenhagen nanti. Itu butuh sekitar 12 bulan,” ujar Bill Hare, seorang ilmuwan dari Potsdam Institute, Jerman.

Delegasi RI melalui beberapa pendekatan bilateral mengeluarkan gagasan agar Kopenhagen menyepakati ”kesepakatan payung” berisi tujuan global jangka panjang, proses, hingga disepakati perjanjian internasional baru sebelum Juni 2010.

Kegeraman tak terucapkan telah mendorong Maladewa melakukan ”protes” dengan melakukan rapat kabinet di bawah air pada 17 Oktober lalu. Kabinet pemerintahan Presiden Maladewa Mohamed Nasheed menyerukan negara kaya mengurangi emisi karbonnya dengan serius. Maladewa merupakan salah satu negara pulau kecil yang terancam tenggelam akibat naiknya permukaan air laut.

Untuk menggedor nurani penguasa negara kaya, Maladewa juga mencanangkan sebagai negara dengan pembangkit listrik tenaga angin senilai 200 juta dollar AS dan menjadi ”negeri pulau kecil dengan karbon netral pada 2020”.

Tak kalah dengan Maladewa, Indonesia yang dinilai gambutnya adalah emiter terbesar di Asia, akibat keinginan besar untuk mendorong negara maju telah berani mengajukan angka 41 persen pengurangan emisi karbon tanpa berpikir panjang betapa pengurangan emisi sebanyak itu akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Maladewa dan Indonesia adalah negara-negara miskin dan berkembang yang prihatin akan kondisi stagnan perundingan. Kondisi yang akan menjerumuskan nasib umat manusia empat dekade mendatang. Inilah drama tragisnya: yang miskinlah rupanya yang rela berkorban sambil menunggu hal yang tak pasti: si kaya mungkin akan rela juga berkorban.

Wirausahawan Baru Harus Terus Lahir


Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi akan lebih memperluas program kewirausahaan di setiap sektor usaha. Tekad ini diungkapkan oleh Menakertrans Muhaimin Iskandar dalam Temu Nasional Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian yang dibuka Wakil Presiden Boediono di Istana Wapres, Jakarta, Selasa (9/2/2010).

Kewirausahaan akan menjadi kunci penyelesaian berbagai masalah perekonomian masyarakat.

"Kewirausahaan akan menjadi kunci penyelesaian berbagai masalah perekonomian masyarakat dan sekaligus mendorong munculnya usahawan-usahawan nasional yang mandiri dan independen," kata Muhaimin.

Dalam kesempatan ini, pemerintah menganugerahkan penghargaan Paramakarya 2009 kepada wirausahawan berprestasi. Penghargaan ini bertujuan untuk memacu semangat para wirausahawan agar lebih mengembangkan usaha mereka untuk menciptakan lebih banyak lagi kesempatan kerja. Para penerima penghargaan berasal dari beberapa propinsi seperti Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Bali, Yogyakarta dan Jawa Barat.

Menurut Wapres Boediono, persoalan utama bangsa ini adalah bagaimana menekan angka pengangguran. Sekali pun sudah turun secara prosentase yaitu 8,9 persen, angka ini masih cukup tinggi dan inilah tantangannya. Angkatan kerja setiap tahunnya belum terserap semua ke dalam lapangan kerja, dan wirausaha merupakan salah satu solusi yang sangat penting. Cara yang lainnya adalah transmigrasi dan diharapkan program ini lebih banyak lagi menyerap tenaga kerja.

"Persoalan kedua di ketenagakerjaan adalah apakah upah mereka sudah layak untuk memenuhi kebutuhan harian mereka," ujar Wapres.

Boediono meminta semua sektor terkait harus bekerja sama dan membuka diri satu sama lain, termasuk membangun sinergi pusat dan daerah. Dalam acara ini juga ditandatangani MoU antara Kementerian Nakertrans dengan Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Kementerian Pemuda dan Olahraga tentang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian.

Kegiatan ini dihadiri para gubernur, bupati, dan pengusaha. Temu Nasional yang akan berlangsung hari Rabu (10/2/2010) akan menghadirkan narasumber Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida Alisyahbana, Menteri Koperasi dan UKM Syarif Hasan, Ketua DPR Marzuki Alie, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman, tokoh kewirausahaan Ciputra, pakar manajemen Rhenald Kasali, dan Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardoyo.

Waralaba Salon Bakal Berkibar Tahun Depan?


Bisnis usaha waralaba dan lisensi di sektor jasa salon perawatan diperkirakan masih akan diminati hingga tahun depan. Pasalnya, usaha ini dinilai kebal terhadap krisis keuangan global dan memiliki pangsa pasar yang luas.

Demikian disampaikan Ketua Umum Himpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Levita Supit, di sela-sela jumpa pers, di Hotel Redtop, Jakarta, Kamis (5/11). "Ibu-ibu itu mending enggak makan dan enggak belanja asal perawatan. Sepanjang perempuan masih banyak dan sepanjang perempuan itu masih ada, maka industri jasa akan berkibar," cetusnya.

Disamping itu, dia juga memprediksi untuk tahun depan sektor makanan dan minuman juga masih diminati. Dia mencontohkan, untuk sektor makanan yang diminati umumnya adalah jenis usaha seperti restoran yang menawarkan harga murah untuk kalangan menengah kebawah.

Adapun untuk sektor minuman, adalah jenis minuman siap saji yang dijual di sejumlah mall. "Kalau restoran waralaba yang diminati paling yang harganya jutaan. Begitu juga dengan minuman, itu yang berkisar Rp 5 jutaan juga banyak diincar," tandasnya.

Klitikan: Telaten, Untung-untungan, dan Kepuasan Diri



Awalnya, Suwarno (60) merasa tertipu saat membeli sebuah keris karatan dengan harga Rp 75.000 dari seseorang. Sepuluh tahun lalu, uang segitu adalah setara dengan penghasilannya selama tiga hari. Sang istri pun ikut memarahinya.

Semakin kuat keyakinannya bahwa ia tertipu karena selama tiga bulan, keris itu tak laku-laku juga. Namun ia heran ketika pada suatu hari seseorang membeli keris tersebut Rp 450.000. Dengan senang hati, keris jelek itu pun dilepasnya.

Namun selang beberapa hari si pembeli keris balik lagi dan bertanya apakah Suwarno punya keris lain. Ternyata, dia pedagang yang paham seluk-beluk keris, dan baru saja menjual keris tersebut Rp 30 juta lebih. Tercenganglah Suwarno mendengar itu.

Ia berburu benda-benda kuno itu sampai ke seluruh penjuru Jawa, dan banyak menemukannya di Jawa Tengah dan Yogyakarta. "Namun ada juga yang belum saya dapat, padahal sudah berbulan-bulan menyambangi si pemilik di Wonosari. Tak mempan-mempan juga usaha saya merayunya," kata Suwarno sembari tertawa. Benda yang dicari itu adalah l ampu gantung buatan Amerika Serikat tahun 1800-an.

Ia pun mulai belajar tentang keris. Beranjak dari pengalaman itu, ilmu tentang radio dan lampu gantung kuno pun didalami. Suwarno pun tak lagi berjualan onderdil motor dan sepeda atau kembali ke pekerjaannya dulu sebagai sopir mobil pribadi. Kini, di Pasar Klitikan Pakuncen, Yogyakarta, Suwarno dikenal sebagai penjual keris, radio, dan lampu kuno yang bisa dibilang belum ada saingannya.

Slamet (37), pedagang di pasar klitikan Pakuncen, juga punya kisah menarik. Tahun 1994 lalu, seorang teman di Sambas, Kalimantan memberi informasi bahwa kenalannya mempunyai samurai Jepang. Slamet langsung berangkat naik kapal dan seminggu bernegosiasi harga secara alot dengan si pemilik.

Samurai yang masih mengkilat itu akhirnya sukses dibawa pulang dengan tebusan Rp 130.000. Ia bisa menjualnya kembali Rp 400.000. Tahun 1994, jumlah itu sangat banyak, sehingga Slamet bisa kulakan banyak barang dan membeli perabotan rumah.

"Kalau cerita mendapatkan barang yang mudah, ada. Misalnya mobil ini. Saya membelinya dari tetangga, dan saya membayarnya dengan mobil plastik plus beberapa ribu rupiah," ujar Slamet sambil menunjuk mobil-mobilan berbentuk bus kecil terbuat dari lempeng besi.

Mobil buatan Cina tahun 1960-1970 itu, dijualnya dengan harga fantastis, Rp 750.000! Apakah mahal? "Wah, jawabannya karena ini barang kuno, nggak dibikin lagi. Coba saja cari mobil seperti ini, pasti nggak dapat. Hehehe,"
begitu kata Slamet yang awalnya berbisnis jual beli kayu ini, dengan nada promosi berbalut bangga.

Jika Slamet dan Suwarno mempunyai lapak untuk berjualan, Yadi (37) tidak. Yadi cukup menggelar jualannya, yakni sepeda kuno (onthel) dan onderdilnya, di rumahnya yang terletak persis di sebelah barat Pura Pakualaman. Sejak tahun 1994 ia menekuni pekerjaan ini, yang kebetulan sesuai dengan hobinya.

Jika mendengar informasi terpercaya tentang onthel dan onderdil onthel, Yadi langsung meluncur. Tak peduli harus sampai Magelang, Muntilan, hingga Madiun. Sering si pemilik yang awalnya ingin menjual onthel, lantas berubah pikiran. "Tapi sering juga si pemilik yang awalnya nggak mau menjual, eh, malah menjual. Ini bisnis unik dan tidak bisa ditebak. Tapi asyik," paparnya.

Suwarno mengutarakan, ia sangat bahagia bisa menyekolahkan empat anaknya walau hanya sampai SMA dengan berjualan barang kuno. "Saya akan tetap menekuni usaha ini. Namun satu hal saya pegang, yakni jangan berjualan ngawur, maksudnya memberi patokan harga mahal banget atau menipu pembeli yang nggak paham," ujar Suwarno.

Jual-beli barang kuno, diyakini mereka tetap akan menjadi bisnis menjanjikan di tahun-tahun depan. Seiring bertambahnya tahun, seiring barang-barang tertentu tak lagi dibikin, selama itulah bisnis mereka bertiga bertahan. Hal-hal yang tak terduga dan untung-untungan, adalah resiko yang mesti dilihat sebagai bumbu dalam berbisnis.

Takahashi, dari Bisnis Porno ke Sayur Mayur



Ganari Takahashi sebenarnya telah menghasilkan jutaan yen sebagai kepala perusahaan video porno Soft on Demand. Namun tahun 2006 dia memutuskan untuk meninggalkan bisnis mesum itu dan mendirikan Kunitachi Farm dengan modal 1 miliar yen. Menurut Takahashi, lompatan dari pornografi ke pertanian ini tidak sesembrono yang disangka orang.

Dikatakannya, saat memasuki industri video untuk orang dewasa, pihak yang paling diperlukan, yaitu yang membuat produk itu, malah tidak mendapat penghasilan. "Distributorlah yang meraup semua keuntungan. Jadi saya membuat industri dimana para produsennya dihargai dengan selayaknya. Ketika saya berpikiran untuk hidup sebagai petani, saya sadar bahwa di bidang ini pun, kegiatan produksinya tidak dihargai selayaknya. Jadi saya berpikir untuk menerapkan cara sukses saya di bidang industri untuk orang dewasa itu kepada bidang pertanian," papar Takahashi.

Maka lahirlah ide Takahashi untuk mengadakan reformasi pertanian.

Dari pertanian langsung ke mulut konsumen

Kunitachi Farm kini bekerja sama dengan 200 petani di daerah sebagai sumber sayuran untuk semua produk di semua outletnya. Semua pertanian itu harus memenuhi standar minimum yakni menghindari pemakaian herbisida, dan terlebih lagi menyesuaikan diri dengan visi Takahashi, yaitu petani muda yang gaul.

Hasil panen disalurkan ke Nouka no Daidokoro (Dapur Peternakan), yaitu restoran yang dibuka Takahashi pada awal 2007 di daerah Kunitachi, di sisi barat Tokyo. Sementara untuk produk-produk yang sudah diolah, seperti adonan miso dan selai, dikirim ke pertokoan-pertokoan terpilih.

Restoran Nouka no Daidorkoro kini telah memiliki dua cabang di perkotaan Tokyo, yaitu di Ebisu dan Shinjuku. Keduanya terkenal selalu dipenuhi pelanggan wanita pada waktu makan siang. Selain menyediakan paket-paket makanan dengan harga terjangkau, juga ada salad bar dengan berbagai sayuran ditata di atas es, dan juga berbagai jus yang juga dibuat sendiri oleh restoran itu.

Dengan dekor tembok putih dan pilar-pilar kayu, restoran ini mengingatkan orang pada rumah pertanian tradisional, dan interiornya juga dipenuhi poster-poster para petani yang produknya disajikan di sana.

Citra-citra ini membantu para pelanggan menyadari hubungan makanan di piring mereka pada orang-orang yang berjasa menyediakannya. "Saya meminjam tenaga petani-petani yang mengagumkan ini untuk mereformasi seluruh industri pertanian," kata Takahashi.

Lakukan, Lihat, Rencanakan

Kunitachi Farm merupakan usaha yang modern, yang juga merangkul jajaran selebriti terkini. Nouka no Daidokoro ini seperti versi Planet Hollywood-nya toko sayur. Dan dengan bersamaan, situs Kunitachi Farm juga memelihara beberapa blog yang mengukuhkan citra eksklusifitas pada para bintang petani ini.

Media massa terdepan juga telah meliput cerita ini, sehingga muncul di sampul berbagai majalah, mulai dari majalah yang sarat-kultur sampai ke yang pakar-tren, dan belum lagi semua acara TV yang tak terhitung lagi banyaknya. Kunitachi Farm bukan saja mengangkat pertanian ke media massa tapi juga membuatnya jadi trendi.

Pendekatan Takahashi untuk Kunitachi Farm memang mengalami juga proses coba-coba alias trial and error, atau disebut Takahashi sebagai pendekatan "Lakukan, Lihat, Rencanakan".

Dalam tiga setengah tahun terakhir ia telah melakukan sejumlah proyek selain Nouka no Daidokoro. Pada bulan Februari 2008, ia membeli pertanian telantar di dekat daerah Chiba.

Lalu ada pula "Kunitachi Farm Girls' Farm" di pedesaan Yamagata, yang dimulai tahun lalu dengan tujuan menjalankan pertanian dari sudut pandang wanita. Tim kaum hawa di pertanian itu tengah berusaha menghasilkan produk yang menurut mereka bisa menarik perhatian para konsumen wanita, seperti tomat-mini.

Walau penjualannya cukup baik, namun Takahashi telah menghabiskan 90 persen dari modal awalnya. "Aku akan memakai sisa 100 juta yen supaya usaha ini bisa mulai meraup keuntungan," katanya.

Jumat, 12 Maret 2010

Pulang dari Jepang Diharapkan Jadi Wirausaha

Departemen Tenaga Kerja siapkan 117 pemuda lulusan SMU untuk mengikuti program magang ke Jepang. Pembekalan ke-117 pemuda lulusan SMU dan STM ini dilakukan di Balai Besar Pengembangan Tenaga Kerja Luar Negeri, Cevest, Jl Guntur Raya No. 1, Bekasi Barat, Senin (8/2/2010).

Ke-117 pemuda ini adalah lulusan SMU dan STM dari seluruh daerah yang ada di Indonesia. Pemuda-pemuda yang akan mengikuti program magang di Jepang antara lain berasal dari daerah Bali, Bengkulu, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Medan, Pondok Pesantren, dan Riau. Tahun ini sebanyak 117 orang akan mengikuti program magang di Jepang.

Mereka sebelumnya telah mengukuti masa pelatihan dari 14 Desember 2009 sampai dengan 10 Februari 2010. Jumlah awal pemuda yang masuk seleksi tahap pertama sebanyak 141 orang, setelah mengikuti proses selanjutnya jumlah akhirnya menjadi 117 orang pemuda.

Pemuda dengan nilai tertinggi yang berada di urutan pertama adalah Mohamad Jamroji asal Jawa Timur dengan nilai A 97,7, urutan ke dua Muhamad Anas Junaidi asal Pondok Pesantren dengan nilai A 95,8, I Wayan Sudiarsana asal Bali dengan nilai A 94,5. Pembekalan di Balai Besar Pengembangan Tenaga Kerja Luar Negeri, Cevest ini meliputi pembekalan mental, sikap, disiplin, pembekalan bahasa Jepang, pembekalan budaya.

"Mereka dibekali dengan pelatihan mental, budaya, serta bahasa Jepang," ucap Direktur Pemagangan, Drs. Mulyanto di BBPTKLN, Cevest, Bekasi Barat, Senin (8/2/2010).

Dengan pembekalan mental, sikap, disiplin, bahasa dan budaya Jepang ini semoga bisa menjadi bekal mereka di Jepang nantinya selama 3 tahun ke depan. "Semoga dengan pembekalan ini, bisa menjadi modal mereka untuk berkomunikasi, beradaptasi di Jepang. Karena di Jepang ada 4 musim, sehingga pembekalan disini bisa membuat mereka beradaptasi dengan ke empat musim itu," ucap Mulyanto.

Mulyanto berharap setelah mengikuti program magang di Jepang ini ke-117 pemuda Indonesia ini bisa mendapat ilmu dan bisa berwirausaha. "Semoga sebalik dari Jepang nanti mereka semua tidak menganggur lagi, bisa berwirausaha, karena selain keterampilan yang didapat mereka juga akan memperoleh uang pembekalan sebesar 600 ribu yen sepulang dari Jepang," ucap Mulyanto.

Program magang ini, ke depannya tidak hanya akan diadakan di Jepang, tetapi bisa dilakukan di Cina, Vietnam, Australia, dan Kanada. "Kita coba tahun-tahun ke depan akan dilakukan di Australia, Kanada, Timur Tengah," ucap Mulyanto. Pembekalan ini bekerjasama dengan Universitas Ciputra yang diwakili oleh Antonius Tanan, Presiden Universitas Ciputra Entrepreneurship Center.

Petani Plasma


Ratidjo memutuskan berhenti sebagai karyawan PT Tuwuh Agung Yogyakarta yang bergerak di bidang ekspor jamur merang ke Amerika tahun 1997. Ia ingin sepenuhnya dekat dengan petani sebagai penyedia bibit. Ratidjo paham benar, jika keadaan petani tidak membaik, terutama dari sisi pemasaran hasil produksi jamur, maka usaha pembibitan yang ia rintis tidak akan berjalan baik.

Sejak itulah lelaki asli Dusun Niron, Pendowoharjo, Sleman, Yogyakarta, ini berniat membuka rumah makan yang khusus menyediakan menu olahan jamur. ”Saya hanya ingin menyerap produksi jamur petani yang waktu itu sudah mencapai hitungan ton setiap hari,” tutur Ratidjo pada awal November 2009 di sela-sela padatnya pengunjung Warung Jejamuran miliknya.

Ide itulah yang menuntun Ratidjo membentuk plasma petani jamur di sekitar wilayah Sleman, terutama sekitar lereng selatan Gunung Merapi. Untuk menyediakan kecukupan bibit, di rumahnya Ratidjo membangun laboratorium untuk pengembangan dan pembibitan jamur.

Kini rumah makan dan laboratorium di atas tanah seluas 2.000 meter persegi itu telah mempekerjakan 110 karyawan. Bahkan, hasil bibit jamur Ratidjo sudah didistribusikan ke seluruh Indonesia. Pencapaian terpenting lelaki yang terjun dalam dunia perjamuran sejak tahun 1968 ini adalah membentuk 50 plasma petani jamur.

”Sekarang seperti manufaktur, saya sediakan bibit, lalu petani membudidayakan, dan saya beli lagi untuk konsumsi lokal di warung. Jadi, kalau budidaya jamur terus bergairah, usaha pembibitan saya akan tetap jalan,” tutur Ratidjo.

Setelah adanya Warung Jejamuran, harga jamur di tingkat petani meningkat. Jika sebelumnya harga jamur tiram Rp 7.000 per kilogram, sekarang Ratidjo membelinya dari petani Rp 9.000 per kilogram. Dulu harga jamur merang Rp 12.000 per kilogram, kini dibeli seharga Rp 17.000 per kilogram. Jika toh terjadi kelebihan produksi, Ratidjo tetap menyerapnya untuk dijadikan olahan jamur kering atau disalurkan kepada pasar swalayan.

Warung Jejamuran yang berlokasi 800 meter ke arah utara dari pertigaan Beran Lor Km 10,5 Jalan Raya Yogyakarta-Magelang itu kini menjelma menjadi ujung tombak pemasaran produksi jamur petani. Setidaknya, dengan sistem kerja sama plasma, petani jamur tak perlu lagi merasa didikte oleh pasar. Ratidjo sejak awal memang bertekad membawa petani keluar dari lingkaran kemiskinan dengan cara membagi ilmu budidaya jamur. Sebuah upaya kecil, tetapi pasti akan sangat berarti di tengah gelimang kesulitan yang terus-menerus menerpa petani kita.

Semua Pakai Nasi Pecel, Bukan Bensin

Berbeda dengan tempat tidur impor Amerika Serikat yang harganya mencapai ratusan juta, tempat tidur kayu jati buatan Pak Basuki asal Malang yang di pamerkan di pameran furniture 2010 Jakarta Convention Center, Minggu (21/2/2010) harganya hanya Rp 26 juta lengkap dengan meja riasnya.

Harga-harga mebel yang dijual Pak Basuki memang tak semahal mebel impor. Namun, kualitas mebel buatannya tak kalah dengan mebel impor. "Wah bisa selamanya (dipakai), makin lama makin mahal, bisa jadi barang antik," kata Basuki.

Semua mebel yang diproduksi industri rumahan Basuki Lacasa dibuat dengan tangan Basuki dibantu tujuh orang pekerjanya. "Semua pakai nasi pecel, bukan bensin," ujar Basuki mengibaratkan.

Karena mengandalkan keahlian tangan tersebut, untuk menghasilkan sebuah mebel seperti tempat tidur, dibutuhkan waktu cukup lama dan menguras tenaga. "Paling lama tempat tidur, sekitar 1,5 bulan. Oh sama kaligrafi surat Yasin, empat bulan setengah satu biji," tutur Basuki.

Meskipun begitu, Basuki tahan menggeluti bisnis ukir mengukir sejak 30 tahun yang lalu. Untuk memperkenalkan barang seni pakai produksinya itu, Basuki mengaku sengaja mengikuti pameran furniture di JCC meskipun biaya menyewa stand di pameran diakuinya cukup mahal. "Nyewanya saja mahal.Belum tentu nutup modal, ini cuma perkenalan saja, nasibnya pengusaha kecil," ujarnya.

Terlihat barang-barang yang dipamerkan Basuki semua terbuat dari kayu seperti jati dan mahoni dengan ukiran tangan yang unik. Ada tempat tidur, bangku, cermin, kaligrafi, patung kuda, lukisan timbul, serta permainan anak-anak tradisional seperti dakon seharga Rp 1,2 juta.

"Saya senang membuat permainan jaman dulu. Cublak-cublak suweng divisualkan ke kayu. Enggrang, dakon, biar pemuda-pemuda tau, mainan dulu kayak gitu," ujar Pria usia 70 tahun berambut putih itu.

Yeti: Rezeki dari Tusuk Sate


Warung Makan Sate Maranggi Cibungur yang terdapat di Jalan Raya Cibungur Purwakarta sudah 20 tahun bertahan. Hingga saat ini, nama warung sate ini sudah dikenal luas. Media cetak dan elektronik pernah melirik warung makan ini sebagai tempat makan pilihan.


Menurut Yeti sang pemilik warung sate, tidak ada yang istimewa dari cara pemasaran yang dilakukan untuk usahanya. Ia sangat terbantu dengan sistem promosi dari mulut ke mulut untuk usaha keluarga yang diturunkan oleh orang tuanya 20 tahun lalu itu.

Dahulu, makanan yang disajikan hanya Sate Maranggi dan Es Kelapa. Namun seiring berjalannya waktu, beragam jenis makanan lainnya hadir, seperti Sop Dengkul, Ikan Bakar dan Ayam Bakar.

Saat ini, Yeti memperkerjakan lebih dari 50 karyawan di warung makannya. Karyawannya adalah tetangga-tetangga Yeti sendiri, yang tidak berkesempatan bekerja di tempat lain.

Ditanya berapa jumlah omzet yang ia dapat perharinya, Yeti mengaku tidak tahu.

"Saya enggak pernah ngitung, pokoknya cukup buat bayar karyawan aja, ada sisa udah saya bersyukur. Makanya kalo ditanya berapa penghasilan, saya bingung jawabnya," cerita Yeti.

Yeti mengaku, soal rasa dan pelayanan kepada pengunjung adalah hal yang sangat penting untuk meraih kesuksesan dalam usahanya. Hal lain, yaitu masalah keterjangkauan dan kenyamanan suasana "kampung" juga membuat banyak orang "kota" yang singgah di warung makannya.

Yeti bertutur, jika sudah singgah di warungnya, maka sudah tak terlihat lagi tingkat sosial para pengunjung. "Semua kayaknya sama aja, enggak kelihatan, soalnya ada artis juga pake baju santai," kisahnya.

Dalam berjualan, ia tak mau muluk-muluk. "Berapa pun itulah rezekinya," ucap ibu empat orang putra tersebut.

Jika pengunjung sedang ramai dan penghasilan bertambah, maka ia akan memberikan bonus kepada karyawannya. Konsep kesederhanaan dan berbagi sangat terasa saat Kompas.com berbincang dengan Yeti.

Wanita yang mengaku tidak berpendidikan tinggi tersebut nyatanya bisa membuktikan bahwa berbekal kerendahan hati semua bisa menjadi mungkin.

Raup Puluhan Juta dari "Lampu Antik" Stoples

Hiasan rumah bernuansa klasik kini tengah diminati. Berbekal sedikit kreativitas dan kerja keras, Tri Yuniawan Putranto (32) memanfaatkan tren tersebut sebagai peluang usaha. Ia kemudian membuat lampu-lampu antik menawan yang murah sekaligus ramah lingkungan karena terbuat dari stoples dan botol kaca bekas yang tadinya dibuang begitu saja.


Awalnya, Tri mendapat ide membuat lampu antik ketika bekerja membuat kerajinan besi pada 2002. Ide mengembangkan usaha ini juga bertolak dari sulitnya memperoleh pekerjaan. Lulusan Diploma III Manajemen ASMI Santa Maria Yogyakarta ini terpaksa bekerja kasar di perusahaan swasta milik saudaranya karena kesulitan mencari pekerjaan.

Hanya bertahan setahun, perusahaan itu gulung tikar. Tri kembali jadi penganggur. Baru saja menikah dan harus memenuhi kebutuhan keluarga memaksanya untuk segera mencari pekerjaan baru.

Beruntung Tri dan istrinya masih diizinkan tinggal bersama di rumah keluarga sang istri di Dusun Srandu, Banjarharjo, Kalibawang, Kulon Progo, DIY. Ketergantungan ini yang membuat Tri mendapat ilham untuk menjalankan usahanya sendiri.

Tri iseng menempa logam kuningan untuk dibuat sebagai kerajinan. Dia pun teringat dengan gagasannya untuk membuat lampu antik. Ia segera memburu stoples kaca bekas di pasar-pasar tradisional dan membeli lembaran logam kuningan.

Satu stoples dibeli seharga Rp 2.500-Rp 15.000, tergantung dari ukuran diameter. Logam kuningan ukuran 120 sentimeter x 36 sentimeter dengan ketebalan 0,3 milimeter dibeli seharga Rp 65.000 per lembar.

Stoples berbentuk bulat dengan diameter 10-15 sentimeter itu dicuci hingga bersih. Setelah itu, lembar kuningan dipotong dengan panjang yang pas dengan keliling mulut stoples.

”Kuningan itu saya bikin menjadi tempat lampu. Setelah diukur tepat, kuningan saya tempa dengan pahat untuk menimbulkan motif bulat atau garis-garis,” katanya.

Tri juga mendesain penyangga lampu sekaligus tatakannya, juga dari bahan kuningan. Butuh waktu lebih dari satu minggu untuk menciptakan lampu antik pertamanya. Sebagian besar dari waktu itu digunakan Tri untuk melubangi kaca stoples sebagai tempat pengait kap lampu. Pelubangan harus dilakukan hati-hati agar kaca tidak pecah.

Setelah menciptakan beberapa model lampu antik, Tri tetap menghadapi kendala modal yang tipis. Namun, agar produknya dikenal, dia berani mengikuti pameran kerajinan yang digelar di Kulon Progo sekitar tahun 2004. Respons pengunjung pameran terhadap kerajinan lampu antik cukup tinggi.

”Seusai pameran, order pembuatan lampu antik terus mengalir. Pelan-pelan usaha saya mulai jalan,” ujar ayah satu anak ini. Mengikuti pameran dengan menyajikan produk contoh yang baik menjadi modal kesuksesan usahanya.

Untuk mendukung proses produksi, Tri merekrut lima tenaga kerja. Dua di antaranya adalah teman-temannya sendiri. Sisanya adalah pemuda Dusun Srandu yang menganggur. Pembuatan lampu antik awalnya dilakukan di halaman rumah. Tri belum mampu mendirikan studio kerja sendiri.

Tantangan baru muncul

Tenggat yang terbatas dari pemesan membuat Tri tidak bisa lama-lama membuat lampu antik. Ia harus mencari cara untuk melubangi stoples secepat mungkin tanpa memecahkan kaca. Padahal, proses inilah yang paling makan waktu.

”Saya akhirnya memakai bor listrik yang diberi mata intan. Mahal, tapi hasilnya rapi. Dulu satu dari tiga stoples pasti pecah saat dilubangi. Sekarang risiko bisa diperkecil menjadi satu banding sepuluh,” katanya.

Inovasi lain ialah memodifikasi pompa air menjadi mesin penggerinda untuk menghaluskan permukaan stoples. Agar tidak pecah saat tergerus penggerinda, tepian stoples atau botol kaca ditutup selotip.

Sesungguhnya tidak ada tuntutan kesempurnaan pada lampu antik. Kaca retak, logam penyok, atau warna kusam justru akan meningkatkan nilai antik dari lampu itu. Harga jual lampu justru bisa terdongkrak.

Tri berhasil mengejar tenggat produksi. Kini ia mampu memproduksi 2-3 lampu antik tempel per hari. Untuk lampu gantung, ia bisa memproduksi 1-2 buah per hari. Dalam satu bulan, Tri mampu memproduksi 100 lampu antik.

Harga lampu-lampu ”stoples” karya Tri bervariasi, mulai dari Rp 150.000 sampai Rp 1,5 juta, tergantung dari kerumitan desain. Omzet yang didapat Rp 15 juta-Rp 30 juta per bulan.

Untuk memperkaya ide desain, Tri rajin mengunjungi pasar-pasar tradisional, seperti Pasar Klithikan dan Beringharjo di Yogyakarta. Ia juga kerap bertukar ide dengan pembuat kerajinan tradisional lain saat menghadiri pameran.

Beberapa tahun pertama, Tri hanya memasarkan lampu buatannya di toko-toko lokal, seperti di Mirota Batik dan berbagai galeri seni di Yogyakarta. Belakangan produknya mulai dilirik para eksportir untuk dipasarkan di Eropa dan Asia.

Luasnya pemasaran ini berdampak pada jumlah pemesanan. Akhir tahun lalu Tri mendapat pesanan 1.000 lampu dari luar negeri. Tri sampai merekrut puluhan tenaga kerja dari sekitar Banjarharjo. Setiap tenaga kerja diupah Rp 35.000-Rp 50.000 per hari.

”Saya cukup senang karena memberi kesibukan kepada pemuda-pemuda desa yang menganggur. Beberapa di antara mereka bahkan juga terinspirasi menekuni dunia wiraswasta sebagai sumber penghidupan meskipun mereka berada di jalur yang berbeda,” kata Tri yang akrab disapa Iput ini.

Perjalanan bisnis lampu antik Tri masih panjang. Sebagian hasil usaha sudah diinvestasikan Tri menjadi studio kerja berukuran sekitar 4 meter x 4 meter. Agar usahanya lebih maju, ia tak segan mengajukan kredit bank hingga Rp 100 juta.

Tri juga mulai melayani pembuatan lampu antik dengan desain khusus sesuai dengan keinginan pemesan. Tidak ada batasan order yang dikenakan karena bagi Tri kepuasan pelanggan adalah segalanya.

Dengan sistem semacam ini, Tri juga tidak khawatir tersaingi produk-produk tiruan atau impor seiring dengan mulai berlakunya sistem perdagangan bebas dengan China. Menurut dia, produk kerajinan tradisional buatan tangan tak mudah ditiru pabrik sehingga akan selalu mendapat tempat di hati konsumen. ”Saya tak takut dengan serbuan produk China atau India. Kualitas produk bikinan mereka tak akan bisa menyamai produk buatan saya,” ujar Tri percaya diri.

Lampu antik buatan Tri tidak hanya mengangkat nama produk kerajinan dalam negeri atau menciptakan lapangan kerja. Namun, lebih dari itu, Tri juga berperan dalam upaya mencegah pemanasan global karena sesungguhnya produk yang ia hasilkan adalah hasil daur ulang dari sampah yang tadinya terbuang percuma.

Kamis, 11 Maret 2010

Peluang Bisnis Monster Fish


Ikan jenis monster fish merupakan ikan langka yang unik dan belum populer di pasaran. Hampir seluruh monster fish yang ada di Indonesia diimpor dari negara lain terutama negara-negara Afrika atau Amerika Selatan. Hal itulah yang menjadi kendala dalam mengembangkan bisnis monster fish. Demikian yang dituturkan hobiis monster fish yang juga pebisnis monster fish, Hanung dan Kamil saat pameran ikan hias, reptil, dan tanaman, Indonesian Pets Plants Aquatic Expo 2009 yang di gelar di WTC Mangga Dua Jakarta, Sabtu (12/12/2009).

"Masih awam banget ya, banyak yang belum tau, kayak tadi, sering orang bilang ikan kita (monster fish) ikan lele, padahal kan bukan," ujar Hanung.

"Ya nggak banyak ya pedangang yang main ikan monster fish kayak gini. Resikonya gede, biaya impor, ongkos masuk," kata Kamil menambahkan.

Menurut Hanung, tantangan terbesar dalam berbisnis monster fish adalah bagaimana menyosialisasikan kepada masyarakat tentang keberadaannya sebagai ikan yang patut diminati. "Tantangan terbesar membuat masyarakat tahu terhadap ikan ini, kenapa bisa mahal, kenapa bisa langka," ujarnya.

Tantangan lainnya, menurut Hanung adalah mengembangbiakkan monster fish yang cukup sulit dilakukan mengingat sebagian besar ikan ini habitat aslinya bukan di Indonesia. Untuk menyiasatinya, Hanung biasanya melakukan riset keadaan air di habitat asli monster fish seperti suhu asli dan kadar keasaman air terlebih dahulu, untuk kemudian membuat habitat tiruan yang hampir mirip habitat asli.

"Kan masih impor, butuh adaptasi dengan lingkungan lokalnya. Tantangannya bagaimana mengembangkan satu jenis. Biasanya kita riset bagaimana rata-rata suhu di Amazon, keasamannya, kita tiru. Nggak mungkin sama persis sih," ujar Hanung.

Ikan golongan monster fish juga bisa terkena penyakit yang tidak umum, berbeda dengan ikan ternakan. "Karena ikan tangkepan alam, banyak penyakit yang nggak umum kayak ikan ternak biasa. Misalnya penyakit pencernaan. Awalnya gak kelihatan, oh ikan ini sehat. Mungkin gara-gara di tempat penampungan sebelum impor tidak dikasih makan, atau makanannya gak cocok," kata Hanung.

Meskipun banyak tantangannya, bisnis monster fish termasuk bisnis yang menjanjikan. Namun membutuhkan waktu relatif lama untuk sukses, tidak bisa hanya dalam setahun sampai dua tahun. "Bisa dibilang menjanjikan tapi nggak bisa dalam setahun, dua tahun. Harus banyak sosialisasi," imbuh Hanung. Monster fish adalah salah satu golongan ikan hias yang dipamerkan di pameran ikan hias,reptil, dan tanaman, Indonesian Pets Plants Aquatic Expo yang berlangsung 5-13 Desember di WTC Mangga Dua Jakarta.

Peluang Bisnis Penyewaan Mainan Anak

Mainan tak bisa dipisahkan dari keseharian si kecil. Namanya juga anak-anak, sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk bermain. Sebaiknya, mainan anak tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik. Untuk mainan edukatif, tentu ayah-ibu tak keberatan merogoh kocek lebih dalam.

Hal inilah yang membuat bisnis mainan anak yang sarat muatan edukasi terus berkembang. Umumnya, mainan edukatif terbuat dari bahan-bahan berkualitas yang aman dimainkan oleh si buyung dan si upik.

Sayang, banderol harga mainan edukasi semacam ini masih lumayan mahal. Masalahnya, usia mainan edukasi terbilang pendek. Seiring bertumbuhnya usia anak, dia membutuhkan mainan baru yang lebih cocok dengan umurnya. Alhasil, mainan lama pun menjadi penghuni gudang, bahkan berakhir di tempat sampah.

Di mata Anita Rachman, kondisi ini adalah sebuah peluang bisnis. Maka dari itu, sejak Februari 2008, ia membuka usaha penyewaan mainan bernama Michie's Rent'n Play di Jakarta Selatan.

Anita memulai usahanya dengan modal Rp 100 juta. Modal itu dia gunakan memborong aneka mainan impor berbagai merek dari Amerika. Sebut saja, Little Tikes, Step 2, Chicco, dan Vtech. Kini, perempuan berusia 30 tahun ini telah mengoleksi 70 jenis mainan. Masing-masing tersedia empat sampai lima unit.

Dia menentukan tiga pilihan durasi sewa, yakni seminggu, dua minggu, dan sebulan. Harganya tentu bervariasi sesuai dengan jenis mainannya.

Tarif sewa perosotan anak Michie Climber, misalnya, Rp 95.000 per minggu dan Rp 300.000 per bulan. Contoh lain, rumah-rumahan Princess Play House disewakan dengan tarif Rp 175.000-Rp 500.000. Ada juga mobil-mobilan macam Police Car Patrol yang disewakan Rp 50.000-155.000. Untuk sarana bermain air, ada Water Wheel Play dengan sewa Rp 60.000-Rp 185.000.

Puluhan mainan tadi diperuntukkan bagi bayi hingga anak usia tujuh tahun. "Yang paling banyak diminati adalah perosotan, bahkan sampai waiting list," ujar Anita.

Untuk dapat menyewa, ibu dua anak ini meminta pelanggan menyerahkan fotokopi kartu keluarga (KK), kartu tanda penduduk (KTP), dan berkas pembayaran rekening listrik atau air. "Plus menandatangani kesepakatan bersama di atas meterai," imbuhnya.

Untuk mengantisipasi kerugian, Anita mensyaratkan, bila mainan yang disewa rusak, maka penyewa wajib menggantinya. "Diganti sesuai harga beli saat ini," ucap Anita.

Dalam sebulan, Anita mengaku mendapat omzet hingga Rp 10 juta. Bahkan, pada musim liburan sekolah Juni dan Juli, omzetnya bisa menyentuh Rp 17 juta. "Margin saya Rp 6 juta-Rp 8 juta," ungkapnya.

Grace Natalia juga menekuni bisnis serupa. Sama seperti Anita, pemilik usaha sewa mainan Comel ini pun memulai usahanya pada 2008. Setahun sebelumnya, Grace sudah bergumul di bisnis penyewaan kostum, baik untuk anak-anak maupun dewasa.

Lantaran mengurusi bisnis lain, koleksi mainan Grace tak sebanyak Anita. Grace baru mengoleksi 25 jenis mainan. Itu pun masing-masing hanya satu unit.

Beberapa koleksi mainannya adalah mobil-mobilan Kidie Rides yang disewakan dengan harga Rp 1 juta sehari dan Jump Castle Bouncer yang disewakan Rp 250.000-Rp 550.000, sesuai lama pinjam.

Grace juga menyewakan mainan untuk acara karnaval, misal Mini Carousel. Dia menyewakan mainan yang terdiri dari tiga bangku berbentuk binatang ini dengan harga Rp 1,8 juta sehari.

Dalam sebulan, dari seluruh usahanya, Grace membukukan omzet maksimal Rp 25 juta sebulan. "Margin saya 30 persen," aku perempuan 28 tahun ini.

Pemenang Young Changemakers Award Dapat Segudang Hadiah

Dua puluh anak muda penerima penghargaan Young Changemakers (YCM) 2009 mengaku, sangat bangga sekaligus senang mendapatkan penghargaan yang diprakarsai oleh Ashoka dengan dukungan dari Indonesia Business Link dan Ford Foundation itu.

Ungkapan ini mereka sampaikan di hadapan Kompas.com usai prosesi penyerahan piagam YCM Rabu (20/1/2010) ini di STIM PPM, Jakarta Pusat. Bagaimana tidak bangga dan senang? Dengan memenangkan penghargaan tersebut berarti kesempatan mereka untuk mengontribusikan gagasannya kepada masyarakat semakin terbuka lebar. Ditambah lagi, adanya segudang hadiah yang sudah menanti di depan mata.

Ya, usai memenangkan YCM Award para pemuda ini nantinya memang akan mendapatkan segudang hadiah. Mereka akan bergabung dengan komunitas Pembaharu Global dan akan menerima dukungan dana investasi pengembangan kegiatan senilai Rp 2,5 juta rupiah.

Mereka juga akan mendapat dukungan pengembangan kapasitas melalui pelatihan dan mentoring serta akan difasilitasi untuk berjejaring dengan pembaharu sebaya di tingkat nasional dan internasional. Maka dari itu, bagi para generasi muda kreatif, jangan ragu untuk mengeluarkan gagasan dan kreativitas Anda melalui YCM Award. Karena, di samping bermanfaat, kesempatan Anda untuk mendapatkan segudang hadiah tadi juga terbuka lebar.

Peluang Bisnis Alpukat Hawaii Jumbo


Dahulu, jenis alpukat paling populer dibudidayakan masyarakat Indonesia adalah alpukat mentega yang rasanya manis. Tapi, saat ini tren ini bergeser. Kini varietas alpukat Hawaii yang meroket.

Salah satu pionir pembudidaya alpukat Hawaii ini adalah Prakoso Heryono. Pemilik Satya Pelita Nursery di Demak itu sudah mengembangkan alpukat Hawaii sejak sembilan tahun lalu. Kini, ia memiliki sekitar lima pohon.

Menurut Prakoso, selain lebih manis, ukuran alpukat Hawai jumbo juga jauh lebih besar dibanding jenis lain. Berat satu buah bisa mencapai 2 kilogram (kg), tiga kali lipat lebih alpukat biasa. Tekstur daging buah ini juga lebih padat, tapi tetap lunak ketika digigit.

Dengan berbagai keunggulan itu, alpukat jenis ini dijual Prakoso seharga Rp 25.000-Rp 30.000 per butir. Ini harga premium. Sekadar perbandingan, harga jual alpukat biasa saat ini hanya Rp 10.000 per kg isi sekitar 3 butir.

“Permintaan dari Jakarta dan Surabaya ke tempat saya mencapai empat kuintal per bulan. Tapi saya baru bisa memenuhi dua kuintal setiap kali panen,” ujar bapak 52 tahun ini.

Prakoso bukannya tak mau meningkatkan produksinya. Saat ini, Prakoso memilih lebih fokus menjual bibit alpukat Hawaii. Sebab, permintaannya sangat tinggi. “Saya juga ingin varietas ini dapat dibudidayakan secara massal,” ujarnya.

Untuk satu bibit setinggi 50 cm dengan usia 7 bulan, Prakoso mematok harga Rp 150.000. Ini hampir 10 kali lipat harga bibit alpukat mentega. Dalam setahun, Prakoso bisa menjual 500 bibit alpukat Hawaii jumbo senilai Rp 75 juta. Ia meraup margin laba di atas 50 persen. Selain berbisnis bibit alpukat, ia juga menjual bibit tanaman eksotis lain. Prakoso juga mempunyai beberapa perkebunan.

Oh, iya, buat yang belum tahu, Alpukat merupakan tanaman yang tumbuh di ketinggian medium, antara 200-1.200 di atas permukaan laut. Soalnya, tanaman ini tidak butuh banyak air.

Pohon akan mulai berbuah setelah 3,5 tahun. Empat tahun pertama, buahnya masih sedikit, kira-kira 20 butir saja. Setelah itu, dalam setiap tahun, jumlah buahnya akan meningkat 20 persen sampai 30 persen.

Pertumbuhan jumlah buah akan berhenti di usia pohon 7 tahun. Sampai usia itu, panen per pohon bisa mencapai 2 kuintal. “Panen alpukat bisa dua kali setahun,” kata Prakoso.

Pebisnis Perempuan Sukses Karena Hati


Perempuan memang memiliki sentuhan khas yang berbeda dari pria. Sentuhan yang penuh perasaan dari dalam hati. Itu mungkin yang membuat perempuan lebih banyak muncul menjadi pengusaha sukses.

Sekitar 25-33 persen perusahaan swasta di dunia dimiliki atau dijalankan oleh seorang perempuan. Bank Dunia menilai perusahaan yang dimiliki oleh perempuan berkembang lebih cepat dibanding usaha yang dijalankan seorang pria.

"Salah satu keunggulan perempuan adalah memiliki kecenderungan mengelola uang dengan baik dan tidak korupsi," kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.

"Pada umur 13-18 tahun adalah masa penting dalam hidup perempuan untuk mendapat haknya atas pendidikan dan akses pada bisnis, dengan demikian perempuan akan bisa mengurangi angka kemiskinan," ujar Mari menjawab pertanyaan seorang mahasiswi Universitas Stanford yang datang ke Jakarta, Selasa (22/12/2009).

Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan mencatat dari 46 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang diketahui, sekitar 60 persen pengelolanya adalah kaum perempuan. Dengan jumlah yang cukup banyak itu, peran perempuan pengusaha menjadi cukup besar bagi ketahanan ekonomi, karena mampu menciptakan lapangan kerja, menyediakan barang dan jasa dengan harga murah serta mengatasi masalah kemiskinan.

Dalam menjalankan usahanya, perempuan pengusaha mengelola usahanya dengan hati-hati sehingga berpotensi untuk menjadi lebih besar dalam disiplin pengembalian kredit. Bahkan tingkat pengembalian kredit dari usaha perempuan hampir mencapai 100 persen. Oleh karena itu, perempuan merupakan potensi dan aset dalam pembangunan bangsa.

Presdir Grup Femina, Svida Alisjahbana, mengatakan bahwa sebagian besar perempuan pengusaha memulai bisnis mereka dengan hati, berdasarkan kesenangan atau minat pribadi, sehingga menjadi besar.

"Banyak perempuan pengusaha yang berbisnis bukan untuk memperkaya diri. Dalam perjalan bisnis mereka, baik secara alami dan dengan kesadaran penuh, berbagi, mencurahkan perhatian untuk sosial, maupun kemanusiaan, dan lingkungan," ujarnya.

Berdasarkan pengamatannya, selama ini umumnya wanita pengusaha memulai bisnisnya dari kesenangan atau minat pribadi seperti hobi yang kemudian berkembang menjadi bisnis yang profesional. Ia melihat wanita muda dengan rentang usia 25 sampai 40 tahun memiliki banyak kreativitas untuk memulai usaha sesuai dengan minat mereka.

Hal itu, menurut Svida bisa menjadi motor pemberdayaan wanita Indonesia. Menurut dia, bisnis atau usaha yang dapat berkembang, biasanya adalah yang dimulai dengan passion, yang dijalani dengan sepenuh hati. Femina mengamati ada banyak perempuan pengusaha yang dalam perjalanan bisnisnya, secara alami, dan dengan kesadaran penuh untuk berbagi, mencurahkan perhatian dan tenaganya dengan luar biasa, untuk melakukan berbagai hal dalam sosial, kemanusiaan dan lingkungan.

Dua perempuan pengusaha sukses yang berbisnis dengan hati adalah Suzy Hutomo (CEO The Body Shop Indonesia) dan Susi Pudjiastuti (pemilik pabrik pengolahan hasil laut dan maskapai Susi Air). Suzy Hutomo bersama suaminya merintis bisnis dari bawah dengan mengambil lisensi produk kosmetik dan perawatan tubuh asal Inggris yang ramah lingkungan. Kini ia membangun kerajaan bisnis sendiri dengan membuka 52 gerai kosmetik, lima department store, enam restoran dan satu semiwaralaba supermarket makanan sehat.

Tak hanya piawai berbisnis, Suzy pun pengusaha yang berkomitmen tinggi terhadap lingkungan. Sebagai Board Member Greenpeace Asia Tenggara dan Advisor Climate Project Indonesia, Suzy dengan fasih menjelaskan soal perubahan iklim global dan implikasinya.

Gaya hidup hijau juga diterapkannya di kantor, sehingga perusahaanya menjadi pemenang Jakarta Green Office 2009. Femina pun mengundang dua pengusaha tersebut untuk berbagi cerita dengan sesama perempuan pengusaha dalam diskusi inspirasi usaha dengan tema Berbisnis Dengan Hati yang digelar dalam rangka memperingati hari Ibu.

Sekitar 200 wanita wirausaha yang bisnisnya terpantau Femina dalam tiga tahun terakhir untuk berkumpul, berbagi informasi, pengalaman dan membangun jejaring, dan mendengarkan inspirasi usaha dari kedua pengusaha sukses itu.

Dalam sebuah laporan perusahaan konsultan terkemuka dunia, Ernst & Young, di Amerika Serikat, jumlah perempuan yang memulai bisnis sendiri tercatat lebih banyak dua kali lipat dibanding pria. Berdasarkan riset dari Center for Women s Business, perempuan di AS telah menciptakan lebih dari 23 juta pekerjaan atau sekitar 16 persen dari semua lapangan kerja di negara tersebut.

Di Indonesia, komunitas perempuan wirausaha jumlahnya meningkat pesat, setidaknya hal itu juga terekam pada data pembaca majalah Femina dari Nielsen. Pada 2009 sudah sekitar 15 persen dari komunitas pembaca majalah tersebut merupakan wirausaha.

Jumlah itu mencakup 80 persen dari jumlah pembaca yang menjadi perempuan bekerja. Namun, perkembangan yang pesat itu bukanlah tanpa hambatan. Selama ini kalangan perempuan pengusaha di Indonesia sering mengalami kesulitan dalam akses permodalan, terkait dengan kebanyakan status mereka sebagai istri.

Ketua Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Rina Fahmi Idris, sesaat setelah terpilih pada November lalu mengatakan ketika perempuan pengusaha terutama yang berskala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengajukan kredit untuk modal kerja atau investasi tetap harus melalui pengetahuan suami.

"Itulah kesulitannya. Oleh karena itu, ke depan kami akan membuat pinjaman kolektif untuk membantu mengatasi masalah akses permodalan tersebut," ujarnya. Sebagian besar anggota IWAPI yang sekitar 40.000 orang merupakan pengelola UMKM dan hanya dua persen yang merupakan usaha besar.

Untuk lebih mendorong tumbuhnya perempuan pengusaha di Indonesia, Rina mengatakan IWAPI akan menggandeng Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) untuk membangun jiwa kewirausahaan sejak dini.

"Pola pikir anak sekolah harus diubah. Tidak boleh lagi, mereka berpikir setelah lulus sekolah cari kerja dimana, tapi berpikir mulai usaha apa," ujarnya.

Oleh karena itu, IWAPI, kata dia, akan mengajarkan kepada anak sekolah dan mahasiswa membuat rencana bisnis dan menginspirasi mereka untuk berproduksi membuat barang yang layak jual.

Saat ini, Indonesia memiliki penduduk lebih dari 230 juta orang dengan persentase jumlah perempuan sebesar 49,9 persen. Hal itu menunjukkan potensi yang besar untuk bisa melibatkan perempuan dalam bidang ekonomi.

Rabu, 10 Maret 2010

Omzet Rp 100 Juta dari Jus Mengkudu


Buah mengkudu yang banyak khasiat.
Bentuk buah mengkudu atau pace yang bopeng-bopeng memang tak menarik. Baunya pun sungguh tak sedap. Namun, sudah lama orang mengenal mengkudu sebagai buah berkhasiat mengobati berbagai penyakit, mulai penyakit ringan sampai penyakit berat macam kanker. Mengkudu juga dipercaya bisa membantu menurunkan berat badan.

Lantaran memiliki banyak khasiat itulah orang mengolah mengkudu menjadi berbagai produk, salah satunya adalah jus mengkudu. Usaha jus mengkudu terus bertumbuh seiring semakin banyaknya orang yang menyadari khasiat jus mengkudu.

Salah satu yang merasakan nikmatnya berbisnis jus mengkudu adalah Philipus P. Soekirno. Pengusaha yang berdiam di Jakarta ini menjual jus mengkudu merek Morinda.

Philipus terjun ke bisnis bisnis jus mengkudu setelah merasakan sendiri manfaat jus buah ini.

Pengusaha berusia 61 tahun ini pernah menderita gagal ginjal, lever bengkak, jantung koroner dan asam urat tinggi. Saat itu, harapan hidup Philipus sudah tipis. Atas saran keluarga, dia pun rajin mengonsumsi jus mengkudu. Hasilnya, penyakit Philipus berangsur sembuh. “Sekarang, saya hidup normal tanpa pantang makan apapun,” ujarnya.

Setelah sembuh, Philipus mempelajari cara mengolah mengkudu jadi minuman yang enak dikonsumsi. Buah mengkudu termasuk sulit diolah. Sebab, di atas buahnya terdapat lapisan lilin yang berbahaya. Apalagi buah ini memiliki banyak biji. “Untuk mengolah mengkudu butuh suhu ruangan kira-kira 10 derajat celcius agar tak banyak jamur dan bakteri yang berkembang,” ujarnya.

Setelah menguasai teknik pengolahan jus mengkudu, mulai 2007 Philipus memulai usahanya. Bermodal Rp 250 juta dari Kredit Usaha Rakyat (KUR), Philipus membeli peralatan mengolah mengkudu dan membuka outlet di Jakarta Pusat. Awalnya, dia hanya bisa mengolah 200 kg-500 kg mengkudu seminggu. Saat itu, omzetnya Rp 20 juta tiap bulannya.

Nyatanya bisnis Philipus berkembang pesat. Kini Philipus mampu mengolah 1 ton sampai 2 ton mengkudu per minggu. Dari situ, Philipus bisa mendapat omzet sekitar Rp 100 juta per bulan. “Penjualannya sangat bagus,” kata Philipus sumringah. Philipus mengaku bisa memperoleh margin 60 persen dari penjualan jus mengkudu.

Minat Bisnis Franchise? Ayo, Serbu Senayan!



Inggried Dwi W
Para pengunjung pada pameran Franchise License Expo Indonesia yang digelar di Assembly Hall, Jakarta Convention Centre, 13-15 Nov 2009. Disini para pengunjung bisa menjajaki berbagai peluang usaha waralaba, mulai dari makanan, minuman, hingga bisnis kecantikan.

Bisnis franchise alias waralaba semakin menggejala. Bisnis ini, jika ditekuni ternyata mendatangkan keuntungan yang tak sedikit. Anda berminat menjalankan bisnis ini?

Ada kesempatan emas untuk melakukan survei jenis bisnis apa yang memungkinkan untuk dirintis. Datang saja ke Franchise License Expo Indonesia di Assembly Hall, Jakarta Convention Center, Jakarta pada 13-15 November 2009 .

Pantauan Kompas.com, di hari kedua pameran, para pengunjung memadati gedung yang terdapat di kompleks Gelora Bung Karno itu. Syahrial, seorang warga Depok mengaku, tengah menjajaki bisnis ini.

"Saya masih status PNS, tapi tidak ada salahnya mulai merintis bisnis sendiri. Apalagi, daerah tempat tinggal saya, di Depok, lumayan berkembang. Jadi, bisa mengembangkan bisnis makanan," katanya.

Meski banyak aneka jenis franchise yang ditawarkan, Syahrial mengaku lebih tertarik berbisnis makanan. "Orang setiap hari kan makan, mbak. Jadi lebih pasti lakunya," ujar bapak tiga anak ini.

Di arena pameran tersebut, tak hanya berbagai franchisor makanan yang memberikan penawaran. Mulai dari usaha kecantikan, travel, laboratorium kesehatan, laundry, telepon seluler, hingga berbagai jenis minuman. Tertarik?

Omzet Ratusan Juta dari Manisan Jambu Bangkok


Kalau kebetulan sedang berkunjung ke Medan, Anda bakal menemukan banyak penjual manisan jambu bangkok. Makanan ini merupakan salah satu oleh-oleh favorit khas kota Medan. Maklum, warna hijau cerah manisan ini menggoda. Rasanya pun yahud, apalagi jika dicocol ke bumbu rujak.

Lantaran banyaknya penggemar manisan jambu bangkok, para pengusaha pun berlomba mengejar peruntungan dari bisnis pembuatan dan penjualan manisan ini. Tak hanya di Medan, bisnis manisan jambu biji ini juga cukup marak di daerah lain.

Salah satu pemain di luar Medan yang sukses adalah Daniel Andijaya. Daniel adalah pemilik Trinity, perusahaan pengolah manisan jambu bangkok di Jakarta, yang dia dirikan 2003 silam. Ide Daniel berbisnis manisan jambu bangkok muncul saat ia kangen mencicipi makanan khas Medan itu. “Saya dulu sempat kuliah di Medan,” terangnya. Tapi, dia tidak bisa menemukan makanan itu di Jakarta.

Ia pun lantas nekad mulai berbisnis manisan jambu bangkok. Untuk memodali usahanya itu, Daniel mengorek isi tabungannya. Modal itu ia belikan jambu bangkok dari Cilebut, yang kemudian diolahnya menjadimanisan.

Lalu dia menitipkan penjualan manisan buatannya itu di toko buah milik temannya. Tak disangka, manisan jambu bangkok olahan Daniel laris manis. Maklum, saat itu belum ada pesaing. Bisnis manisan jambu bangkok Daniel berkembang pesat. Bahkan, dia mendapat tawaran memasok produknya di dua jaringan ritel modern besar.

Seiring meningkatnya permintaan, petani jambu bangkok di Cilebut kewalahan memenuhi permintaan Daniel. Itu sebabnya Daniel kemudian memasok jambu biji dari Medan. “Di Medan pasokan stabil, karena kebunnya luas,” papar Daniel.

Kapasitas produksi Trinity memang meningkat pesat. Jika di awal berdiri, Daniel hanya mengolah ratusan kilogram jambu per bulan, kini dia bisa mengolah 30 ton jambu per bulan. Untuk produksi sebanyak ini, Daniel kini mempekerjakan 15 karyawan. Untuk menghasilkan manisan yang sedap, Daniel hanya menggunakan jambu yang tingkat kematangannya 70 persen. Dia menambahkan, jambu yang matang tidak enak dijadikan manisan.

Sebelum dijadikan manisan, jambu dikupas dan dibuang bijinya terlebih dulu. Setelah itu, jambu bangkok dipotong-potong dan direndam dalam air daun suji agar warna hijaunya semakin menyala. Daniel mengemas manisan jambu bangkok menjadi kemasan seberat 7 ons-8 ons. Tak lupa, dia menambahkan bumbu rujak. Daniel menjual manisan tersebut dengan harga Rp 9.000 - Rp 10.000 per emasan ke toko. “Harga jual ke konsumen tergantung toko,” jelasnya.

Daniel mengaku meraup omzet Rp 200 juta setiap bulan dari usaha manisan ini. Pria berusia 39 tahun ini mengaku hanya mengambil margin sebesar 5 persen dari harga jualnya. Cuma, sejak masuk tahun 2009, bisnis penjualan manisan jambu bangkok Daniel tidak terlalu bagus. Penjualan manisan jambu menurun. Dia terpaksa mengurangi pasokan manisan di beberapa gerai ritel modern. “Itu sengaja saya lakukan, kalau tidak saya bisa rugi Rp 6 juta per bulan,” tuturnya.

Pasalnya, selain karena permintaan berkurang, manisan jambu juga termasuk makanan yang tidak tahan lama. Kalau lama tak terjual atau mesin pendingin di toko tidak bagus, manisan jambu akan rusak. Kalau sudah begitu, manisan jambu terpaksa dibuang sebelum terjual.

Omzet Bengkel Syamsu pun Naik 4 Kali Lipat



Awalnya September 1999, Noor Syamsu Zauhar mendirikan Riser Service, sebuah bengkel dinamo dengan 1 karyawan di daerah Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan. Meski demikian, di bengkel yang berukuran 4 x 6 itu, Syamsu kerap menerima orderan dari perusahaan-perusahaan di wilayah itu.

Lazimnya para entrepeuneur kecil, keinginan Syamsu untuk untuk mengembangkan usahanya terkendala oleh faktor dana. Padahal dari potensi yang ada, ia yakin bisa meraup omzet yang lebih besar.

Keberuntungan ternyata tidak jauh dari Syamsu. Adalah Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) bentukan tim CSR Adaro, yang melihat potensi dari bengkel yang awalnya hanya beromzet Rp 5-6 juta perbulan itu. Melalui Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Banua Bauntung yang dibentuk tim CSR Adaro, tahun 2006 Syamsu mendapatkan kucuran pinjaman lunak sebesar Rp 100 juta.

Begitu mendapatkan modal tersebut, Syamsu langsung menggunakannya untuk membangun bengkel baru di lokasi yang lebih strategis serta untuk menambah modal usaha.

Selain modal, LPB juga memberikan pelatihan untuk meningkatkan kualitas karyawan di bengkel milik Syamsu. Pelatihan yang diberikan diantaranya pelatihan administrasi sederhana dan studi banding ke dealer sepeda motor mitra LPB dan ke salah satu pabrik otomotif ternama.
Dengan lokasi yang baru dan keterampilan karyawan yang meningkat, omzet bengkel Syamsu kini naik 4 kali lipat, kini ia meraup omzet rata-rata Rp 20 juta per bulan.

Bahkan Syamsu kini memiliki 1 cabang bengkel dinamo di Tamiang Layang Kabupaten Barito Timur Kalimantan Tengah. Jumlah karyawan yang awalnya hanya 1 orang pun bertambah menjadi 7 orang.

LPB sendiri melakukan pembinaan terhadap usaha mikro kecil dan menengah yang ada di wilayah operasional Adaro yaitu di Kabupaten Tabalong dan Balangan. Salah satu sektor usaha yang dibina adalah usaha perbengkelan sepeda motor dan perbaikan dinamo. LPB menilai usaha ini mempunyai prospek yang cerah karena sejalan dengan kebutuhan masyarakat di transportasi. Pembinaan yang diberikan kepada UKM bengkel antara lain pelatihan. Pelatihan ini mencakup aspek teknis untuk mengembangkan keahlian mereka sesuai perkembangan teknologi, dan aspek non teknis yaitu perbaikan terhadap manajemen dan bagaimana menumbuhkan etos kewirausahaan UKM dalam bisnis perbengkelan.

Minumnya Komplet, Peruntungannya Melangit


Gerobak-gerobak penjual minuman, baik yang mengusung merek-merek minuman terkenal maupun yang menawarkan merek-merek baru, kian bertebaran di seluruh penjuru kota. Tentu Anda semakin gampang menemukan gerobak yang menawarkan teh sedu bermerek tertentu atau beragam aneka kopi.

Memang, umumnya, setiap gerobak hanya mengusung minuman tertentu. Ada yang khusus menyajikan kopi, teh, jus, atau es krim. Padahal, tidak semua orang suka kopi, teh, jus, atau es krim. Itu berarti, pembeli potensial mereka terbatas.

Nah, dari sisi konsumen, terbayang juga, kan, betapa repot bila dalam waktu bersamaan si anak menginginkan es krim, sementara ibu berhasrat menyeruput secangkir teh hangat manis, dan sang bapak ingin menghirup wangi aroma kopi panas? Peluang inilah yang ditangkap oleh Revo Indonesia sehingga perusahaan ini membuka gerai minuman dengan tiga menu sekaligus: kopi, teh, dan es krim. “Pasar lebih luas ketimbang gerai yang menjajakan minuman sendiri-sendiri,” kata Hendra, pemilik Revo.

Memulai usaha sejak Desember 2008, usaha yang dirintis Hendra membidik pasar kelas menengah dan bawah yang menurut dia menyimpan potensi lebih lebar. Maka itu, harga minuman Revo terbilang murah, Rp 2.500 sampai maksimal Rp 6.000 per cup.

Dengan mematok harga ini, Hendra mengaku usahanya bisa berkembang cepat. Hanya butuh waktu kurang dari setahun, gerainya bertambah menjadi 125 unit dan tersebar di seluruh Jabodetabek.

Pertumbuhan gerai minuman Revo yang cepat lantaran sejak Mei 2009 Hendra menawarkan program kemitraan. “Kini sudah ada 65 calon investor yang masuk daftar tunggu,” ujar dia, dengan nada-nada promosi.

Tertarik menekuni usaha minuman seperti Hendra?

Ada banyak pilihan yang bisa Anda ambil. Selain menjadi mitra usaha Revo, Anda juga bisa menjadi mitra Men United, penjaja teh dan kopi rasa buah, atau bergabung dengan jaringan waralaba Baltic Ice Cream yang menjajakan es krim.

Agar bisa menjajakan bermacam minuman dalam satu lokasi gerai, Anda tak harus menjadi mitra Revo. Anda bisa menjadi mitra beberapa jaringan usaha penjaja minuman, lalu menjualnya bersama-sama di satu tempat. Sama saja, kan?

Anda juga bisa memulai usaha secara mandiri dengan berjualan tiga minuman sekaligus dengan mengusung merek sendiri. Kalau tidak tahu memproduksi minuman tertentu, ya, khusus minuman yang tak Anda kuasai itu Anda bisa bergabung dengan jaringan waralaba atau kemitraan tertentu.

Revo

Tak ada yang istimewa dari tawaran kemitraan Revo Indonesia. Usaha ini hanya bermodalkan booth kecil sebagai tempat berjualan. Peralatannya juga tak beda dengan gerai usaha minuman lain, yakni teko listrik, shaker pengocok minuman, termos, freezer, penyimpan es, dan es krim.

Hendra bercerita, dia memulai usaha di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Lokasi yang menjadi tempat jualan dekat dengan tempat bermain anak-anak. Di situ, para orangtua umumnya menunggu anak-anaknya bermain.

Berawal dari situ, Hendra bisa mengembangkan usaha dengan membuka tujuh gerai yang tersebar di berbagai pusat perbelanjaan di Ibu Kota. Agar peluang ini tak ikut disambar orang, Hendra pun lantas mengembangkan usaha dengan menawarkan kemitraan.

Konsepnya sederhana. Si calon mitra cukup menyediakan tenaga kerja dan tempat berusaha. Khusus untuk tempat, Hendra menyarankan agar mitra memilih tempat-tempat yang ramai dilalui orang. Misalnya mal, pasar, lokasi sekitar kampus, kantin perkantoran, stasiun kereta api, dan terminal bus.

Namun, mitra juga harus memerhatikan mitra Revo lainnya. Agar tidak terjadi persaingan antarmitra, lokasi mereka tak boleh berdekatan, minimal jarak antargerai 500 meter–1 kilometer. “Dengan begitu, kelangsungan usaha lebih terjamin,” kata Hendra.

Mitra tentu harus menyetorkan modal sebagai pengganti biaya peralatan dan perlengkapan usaha dan bahan baku serta pelatihan pembuatan minuman. Khusus untuk bahan baku selanjutnya, mitra harus membeli bahan baku di Revo. “Bahan dasar kami berbeda dan tidak dijual di tempat lain,” tandas Hendra.

Ada tiga program kemitraan yang ditawarkan Revo. Pertama, mitra bisa mengambil program sendiri-sendiri: Revo Coffe, Revo Tea, atau hanya Revo Ice. Kedua, mitra bisa mengambil program kemitraan tiga menu minuman sekaligus. Terakhir, mitra bisa memilih hanya dua menu minuman, misalnya teh dan kopi, teh dan es krim, dan seterusnya.

Masing-masing pilihan itu tentu membutuhkan modal investasi berbeda. Modal mengikuti program Revo Coffe dan Revo Tea sama, yakni Rp 6,5 juta. Adapun modal Revo Ice mencapai Rp 7 juta. “Jika tertarik tiga menu sekaligus, investasinya Rp 15 juta,” ujar Hendra.

"Sementara, jika mitra ingin menggabungkan booth kopi dan teh, biaya investasinya bertambah Rp 1,5 juta,” papar Hendra.

Dengan biaya tersebut, Revo menjamin mitra bakal balik modal dalam waktu minimal dua bulan. Ini dengan catatan, mitra mampu menjual minuman 50–60 cup per menu atau 150–200 cup sehari. Perincian harga minuman es teh Rp 2.500, sedangkan dengan aneka rasa Rp 5.000. Adapun kopi Rp 5.000 dan kopi aneka rasa Rp 6.000, sementara es krim hanya Rp 2.500 per cup.

Bila kurang dari jumlah itu, “Balik modalnya tentu lebih lama,” ujar dia. Tapi, dari pengalaman, “Mitra bisa balik modal hanya dalam hitungan tiga–empat bulan,” ujar dia.

Dalam menjalankan usahanya, Hendra mengaku tidak membutuhkan promosi. “Lebih mengandalkan promosi antar-mitra saja,” ujar dia. Cara ini efektif lantaran mitra sudah berpengalaman menjalankan usaha sendiri.

Agar promosi dari mulut ke mulut berlangsung efektif, Revo menawarkan hadiah Rp 500.000 dan potongan 20 persen dari pembelian bahan baku saban bulan bagi mitra yang berhasil mengajak investor ke Revo.

Men United

Men United adalah gerai usaha milik CV Sukses Group. Perusahaan yang sudah berdiri sejak tahun 2005 ini menawarkan kemitraan minuman teh dan kopi rasa buah sejak tahun 2007. Kini, usaha yang berawal dari Medan ini telah berkembang ke berbagai daerah: Batam, Semarang, Balikpapan, Jakarta, Bogor, dan Karawang.

Seperti juga Revo, Men United menawarkan aneka rasa teh dan kopi dengan 16 rasa buah. Dua rasa pilihan di antaranya menggunakan buah khas Medan, yakni markisa dan terong belanda. Kopinya juga khas Medan, yakni kopi sidikalang. “Kopi ini terkenal nikmat di Medan,” kata Nina Sela, Manajer Pemasaran CV Sukses Group, berpromosi.

Dengan harga teh per cup Rp 2.500 hingga Rp 8.000 serta kopi Rp 5.000 hingga Rp 9.000 per cup, Nina bilang, usaha ini bisa balik modal minimal tiga bulan. Syaratnya, mitra mampu menjual 100 cup teh dan 50 cup kopi sehari dengan omzet mencapai Rp 650.000 per hari. “Bahkan, banyak yang bisa balik modal lebih cepat dari tiga bulan karena omzet rata-rata mitra usaha kami Rp 800.000 per hari,” ujar dia.

Jika tertarik, calon investor cukup menyediakan tempat dan modal usaha Rp 14 juta. Dengan modal segini, mitra akan mendapatkan paket booth lengkap dengan kanopi, satu perlengkapan usaha, serta set tea dan dispenser.

Sebelum memulai usaha, mitra akan mendapatkan pelatihan karyawan dan pasokan bahan baku yang harganya tidak jauh berbeda dengan harga di pasaran. Misalnya, sekilogram teh kering seharga Rp 16.000, kopi Rp 8.000, dan perasa buah Rp 35.000 per 1,5 liter.

Baltic Ice Cream

Es krim bikinan Baltic memang sudah terkenal sejak lama. Namun, ia baru mulai membuka kemitraan dengan sistem waralaba sejak April 2009. Hasilnya, kini sudah terjaring empat terwaralaba di Puri Indah, Lippo Karawaci, BSD City, dan Kelapa Dua. “Belum banyak, memang, karena tawaran kami masih terbatas di Jakarta,” terang Janto Tan, Manajer Pemasaran Baltic.

Beberapa kelebihan es krim ini adalah nama yang sudah terkenal serta penggunaan bahan baku yang alami, seperti susu dari susu sapi murni, sehingga tekstur es krim dia lebih lembut daripada es krim pada umumnya.

Dengan sistem waralaba, investor juga punya kewajiban membayar royalti 5 persen dari total omzet saban tahun, selain investasi awal segede Rp 75 juta. Investasi awal ini sudah termasuk franchise fee Rp 25 juta untuk lima tahun.

Dari biaya investasi ini, terwaralaba akan mendapatkan perlengkapan pembuatan es krim seperti freezer, booth untuk usaha, dan bahan baku pembuatan es krim. Selain menjual es krim, Baltic membolehkan mitra menjual kopi, teh, bahkan kentang goreng.

Dalam hitungan Baltic, terwaralaba bisa balik modal dalam waktu 10 bulan. Ini dengan asumsi mitra mampu menjual 80–125 cup es krim yang harganya Rp 6.000 hingga Rp 10.000 per cup. “Jika omzet per hari Rp 1 juta, maka mereka bisa balik modal kurang dari setahun,” kata Janto.

Selasa, 09 Maret 2010

Menikmati Legitnya Laba Martabak Sarang Semut



Rasanya sudah tak asing mencicipi martabak di lidah kita. Bundar, kecoklatan, dan rasanya yang legit menjadi ciri khas dari jajanan pasar ini. Jenisnya pun bermacam-macam tergantung variasi penjualnya, seperti martabak Bangka, martabak Bandung, bahkan martabak telur.

Satu lagi jenis martabak yang begitu unik hadir saat berlangsungnya pameran makanan Bogasari Expo 2009, yang berlangsung pada 20-22 November 2009, di Lapangan Aldiron , Pancoran, Jakarta. Dari berbaagai stand makanan yang hadir dalam pameran tersebut, Martabak Sarang Semut selalu ‘dikerubuni’ oleh para pengunjung.

Karena penasaran, Kompas.com mencoba mengunjungi stand tersebut. Meski sibuk membuat martabak, Cecep, salah satu pencetus ide Martabak Sarang Semut ini, bersedia untuk diwawancara. Cecep mengisahkan, awalnya ia dan para kawannya yang tergabung dalam IKKI Group mencari ide kreasi baru. Maklum, semuanya berkecimpung dalam dunia masak.

Pada Januari 2009, Martabak Sarang Semut diperjualbelikan. Dinamakan Sarang semut, ucap Cecep, karena saat memanggang adonannya berbentuk seperti sarang. Dengan 3 variasi rasa, yaitu martabak manis, martabak asin, dan martabak brownies, jajanan pasar ini begitu laris di pasaran.

“Awalnya, kami kesulitan untuk membuat martabak ini beda dari yang lain. Setelah melakukan berbagai uji coba, akhirnya kami berhasil menemukan inovasi baru, yaitu martabak tanpa ragi tapi lembut. Orang lain menggunakan ragi pada martabaknya, tapi kami tidak” jelas Cecep dalam pameran Bogasari Expo, Sabtu (21/11).

Di samping lembut, ia menjamin martabak Sarang Semut lebih sehat dari martabak lainnya. Selain tanpa ragi, gula yang digunakan sedikit. Untuk satu kilo gula saja, jelasnya, baru habis untuk 40 buah martabak, sehingga orang diabetes pun masih dapat menikmati martabak ini. “Martabaknya enak, mbak, beda dengan yang lainnya. Encer tapi lembut..., “ ucap salah satu pelanggan yang setia menunggu pesanannya.

Cecep mengaku, jajanan ini begitu laris manis. Selama 10 bulan, martabak hasil temuan IKKI Group ini telah menyebar ke seluruh propinsi (kecuali Medan dan Aceh) di Indonesia dengan 300 cabang. Di Jakarta sendiri sudah ada 20 cabang, yang kebanyakan terdapat di mal-mal. Di samping itu, martabak ini juga diekspor hingga ke pasar internasional, seperti Cina, Vietnam, dan Singapura.

Menurutnya, sistem pemasaran mulai dilakukan dari pameran ke pameran, seperti Bogasari Expo. Melihat bisnis ini laku di pasaran, IKKI Group mulai melakukan franchise seharga Rp. 18.000.000 dan hanya men-stock adonannya.

Sebanyak dua puluh kilogram adonan dapat habis dalam sehari. Sementara dalam sebulan dapat menghabiskan sekitar 2 ton itu. Satu kilo sendiri sama dengan 22 martabak. Harganya pun berbeda tergantung dari jenis dan variasinya,mulai Rp. 5.000 hingga Rp. 8.000.

Kenapa martabak? Meski banyak di pasaran, jajanan ini ujarnya, selalu ada pembeli. Pembelinya juga tak terbatas pada umur dan kalangan tertentu, sehingga siapa pun dapat membelinya. “ Martabak juga bisnis long lasting, kami tak mau bermain-main dan tak sekedar mencoba saja,” tambah Cecep.

Selain unik, ia menceritakan rahasia agar adonannya tetap lembut. “Kami selalu mengutamakan kualitas, rasa, dan teksturnya,” ucap Cecep. Untuk mendapatkan kualitas adonan yang bagus, ia tak mau menggunakan sembarang tepung. Untuk itu, ia menggunakan tepung terigu Bogasari. “Kami sudah menjadi mitra Bogasari sejak awal berbisnis,” ujarnya.

“Tak takut dengan persaingan, Pak?” tanya Kompas.com. Banyak yang mencoba mengikuti usaha martabak ini, ujarnya,namun di tengah jalan, tak jarang dari mereka yang berhenti. Menurutnya, ia sangat terbuka dengan persaingan yang ada. “Itu yang kami tunggu, jadi orang bisa melihat martabak siapa yang terbaik,” tegas Cecep dengan semangat.

Begitu banyaknya pembeli yang terus berdatangan, membuat semakin penasaran mencoba martabak Sarang Semut. Kompas.com memesan martabak Brownies coklat kacang dan Brownies coklat keju seharga Rp. 5.000 per buah. Mmmm... ternyata memang lembut dan enak. Sekali gigit, jadi ketagihan deh...

Mengunduh Untung dari Demam Internet

Kini boleh dibilang internet benar-benar tengah memasyarakat. Semakin banyak orang yang enggan berpisah dari internet barang sehari pun. Tak sedikit orang dan perusahaan yang makin bergantung pada internet, dari sekadar untuk menyapa teman lama sampai melancarkan urusan bisnis nan serius.


Tak heran, kini banyak warung internet (warnet) yang selalu penuh pengunjung. Kian banyak pula orang yang lebih suka mengakses internet di rumah dengan cara berlangganan layanan akses internet sendiri. Selain tak perlu keluar rumah, mereka lebih bebas menentukan waktu ngenet.

Sekarang banyak tawaran berlangganan internet di rumah. Selain menjadi pelanggan layanan internet service provider (ISP) kelas kakap, termasuk melalui operator telepon seluler, kita bisa juga berlangganan layanan dari ISP-ISP kecil.

Sebenarnya, nyaris tak ada beda antara ISP kelas rumahan ini dan ISP kelas kakap. Asal tahu saja, kebanyakan pebisnis ISP kelas rumahan ini sebenarnya mendapatkan akses internet dari ISP besar juga. “Intinya, kami berbagi jaringan kepada pelanggan,” ujar Mulyadi Bakir, penyedia ISP kelas rumahan.

Praktik bisnis ini memang mirip dengan bisnis warnet. Perbedaannya, pelanggan tidak perlu bertandang ke warnet bila ingin berselancar ke dunia maya. Penyedia layanan ISP akan menyediakan jaringan internet ke rumah pelanggan.

Ternyata, bisnis ini cukup mendapat sambutan yang positif. Selain karena kualitas internet lebih stabil ketimbang akses internet dari operator ponsel, akses internet melalui ISP umumnya juga lebih cepat ketimbang di warnet. Itu sebabnya, banyak orang lebih suka menggantungkan layanan dari ISP kelas rumahan ini.

Mandiri

Tengok saja pengalaman usaha Mulyadi yang menggeluti usaha internet rumahan ini sejak empat tahun lalu. Menamai usahanya dengan nama Warnet Rumahan, Mulyadi mengawali usaha dengan membuka warnet. Seiring dengan banyaknya permintaan pelanggan untuk pemasangan instalasi internet ke rumah, Mulyadi bertekad membangun jaringan. “Modal awalnya hanya Rp 40 juta untuk membuat menara dan jaringan,” cetus dia.

Berbeda dengan bisnis warnet yang digelutinya, usaha ISP yang dilakoninya lebih mudah. Dia, misalnya, tak perlu menyediakan komputer, pemilik rumah yang jadi pelanggan pasti punya komputer sendiri. Mulyadi hanya perlu membagi bandwidth atau kapasitas jaringan internet yang dibelinya dari ISP kelas kakap.

Cara Mulyadi menggulirkan bisnis ini lebih kurang seperti berikut. Dia berlangganan internet dari ISP perusahaan telekomunikasi dengan kapasitas bandwidth sebesar 1,7 megabyte berbiaya berlangganan Rp 1,1 juta per bulan.

Dari jatah bandwidth yang dia peroleh, Mulyadi bisa melebarkan jaringan internet ke sekitarnya melalui teknologi tanpa kabel. Pelanggan kudu membayar jaringan yang dipakainya Rp 250.000 per bulan. Sayang tawaran ini kurang menarik di mata pelanggan. Kata Mulyadi, banyak pelanggan lebih suka memanfaatkan jaringan internet yang dia sediakan dengan sistem perhitungan per jam. “Biayanya cuma Rp 3.500 per jam,” katanya.

Nah, dengan pola perhitungan per jam inilah Mulyadi justru memperoleh penghasilan lumayan, yakni Rp 400.00 per hari. Dalam sebulan Mulyadi bisa membukukan omzet Rp 12 juta. Setelah dikurangi biaya operasional serta gaji pegawai, keuntungan bersih yang dia dapat sekitar Rp 4 juta.

Rupanya, ada sebab pelanggannya lebih suka hitungan per jam seperti di warnet. “Pelanggan bisa memaksimalkan penggunaan internet di rumah saat membutuhkan tanpa perlu ongkos besar,” ujarnya. Mulyadi juga diuntungkan dalam pembagian kecepatan dan kestabilan layanan internet karena pelanggan umumnya tak memakai dalam waktu bersamaan.

Selain usaha ini, Mulyadi juga bisa memperoleh penghasilan lain dari melayani pemasangan dan instalasi jaringan internet di seluruh DKI Jakarta. Khusus untuk layanan internet berlangganan di rumah, jangkauan pasarnya baru seputar rumahnya di Cikokol, Tangerang.

Kalau tertarik ingin menjalankan bisnis serupa, sebelum membuka usaha, sebaiknya Anda terlebih dahulu mengurus izin mendirikan usaha serta izin menjadi distributor ISP dari Kementerian Komunikasi dan Informatika serta membangun menara. “Ini enggak gampang, tapi bisa dilakukan,” ujar Mulyadi berbagi tips.

Kemitraan

Jika tak mau repot dengan urusan perizinan, Anda bisa juga menjadi pengusaha internet rumahan dengan menjadi mitra usaha serupa yang telah lebih dulu beroperasi. Salah satu ISP yang menawarkan kemitraan adalah Net Home.

Saat ini Net Home baru menawarkan sistem kemitraan usaha yang berlokasi di daerah Bekasi dan sekitarnya. Namun, kini Net Home mulai mengepakkan sayap ke Depok dan Jakarta. Khusus untuk dua wilayah ini, Net Home baru menyediakan layanan set up jaringan internet dengan sistem beli putus.

Ini berbeda dengan wilayah Bekasi dan sekitarnya. Net Home sudah berani menawarkan kemitraan kepada investor. Bermodalkan Rp 13,5 juta, mitra berhak mendapatkan instalasi internet, bandwidth dengan kecepatan 128 kilobyte per detik, serta menara pemancar yang siap beroperasi.

Tak perlu khawatir sulit mengoperasikan bisnis ini meski Anda tidak memiliki keahlian atau pengetahuan yang cukup mengenai teknis jaringan internet. “Kami menyediakan teknisi yang siap melakukan perbaikan jaringan,“ ujar Deddy Kurniawan, pemasar Net Home, berhawa promosi.

Selain itu, Net Home juga akan ikut mencarikan pelanggan bagi semua mitranya. “Jika kami yang mendapat pelanggan, kami akan menyalurkan kepada mitra yang berada di daerah pelanggan itu,” ujarnya.

Tak hanya itu. Mitra juga punya hak selalu ikut serta dalam iklan dan promosi Net Home di semua media, baik di majalah, koran, maupun internet. Dengan berbagai fasilitas dan kewajiban tersebut, Net Home memakai sistem bagi hasil. Sebesar 60 persen dari total omzet diperoleh si mitra.

Omzet mitra usaha tentu saja diperoleh dari pembayaran biaya langganan konsumen yang tak lain pemakai yang menggunakan jejaring internet. Untuk menjadi pelanggan, mereka harus membayar biaya registrasi sebesar Rp 200.000. Biaya ini belum termasuk kabel dan radio penangkap sinyal alias jaringan internet (dekoder) yang bisa disediakan sendiri oleh pelanggan. “Kalau pelanggan menginginkan, kami bisa menyediakan semua alat ini,” kata Deddy.

Untuk itu, pelanggan harus menambah pembayaran total menjadi Rp 1 juta untuk biaya instalasi berikut modem. “Biaya pendaftaran berikut biaya instalasi menjadi hak Net Home,” ujar Deddy.

Lalu, dari mana mitra mendapat keuntungan? Tentu saja mereka bisa memperolehnya dari penerimaan layanan berlangganan internet oleh konsumen. Saban bulan pelanggan harus membayar biaya berlangganan sebesar Rp 250.000.

Dengan asumsi seperti ini, jika mitra punya minimal lima pelanggan saja, dia akan mendapatkan omzet Rp 1,25 juta dari uang berlangganan. Dari omzet ini, mitra memang harus menyetor Rp 750.000 ke Net Home. “Sisanya untuk si mitra,” ujarnya.

Menurut hitungan Deddy, dengan jumlah pelanggan stagnan hanya 10 pelanggan, mitra bisa balik modal dalam 14 bulan. “Semakin banyak jumlah pelanggan, waktu yang dibutuhkan untuk balik modal tentu semakin cepat,” lanjutnya.

Deddy yakin, semakin tingginya animo masyarakat untuk menggunakan internet, pasar dalam bisnis ini akan terus mengembang. Bahkan, jika dalam satu tahun bisa punya 45 pelanggan, omzet mereka mengembang jadi Rp 11,25 juta, dengan keuntungan sekitar Rp 5,62 juta per bulan untuk mitra. Tentu saja, si mitra harus tetap menjaga kualitas layanan internet tetap stabil dan cepat. “Berarti, ada konsekuensi penambahan bandwidth,” ujar Deddy.

Mereka tak lagi bisa mengandalkan kapasitas semula, yakni 128 kilobyte per detik yang hanya bisa melayani sekitar 15 pemakai internet. Namun, ini tak jadi soal bagi mitra karena penambahan bandwidth tidak berarti ada biaya tambahan. Net Home akan menambah langsung kebutuhan tambahan bandwidth tersebut.

Menghindari Kecelakaan Finansial



Kecelakaan bisa terkait dengan aktivitas keuangan. Kecelakaan keuangan yang paling banyak dialami orang adalah ketika penghasilan dirasa tidak pernah cukup untuk membiayai pengeluaran. Selalu merasa kurang kendati jika mau mengurangi konsumsi, penghasilan yang diperoleh masih mampu untuk membiayai hidup.

Tragisnya, ketidakmampuan mengekang diri mengakibatkan konsumsi jalan terus dengan pembiayaan dilakukan dengan kartu kredit. Alhasil, pengeluaran menjadi lebih besar ketimbang penghasilan. Inilah awal dari kecelakaan finansial yang akan berlanjut dengan kecelakaan-kecelakaan lain.

Contoh konkret, penggunaan kartu kredit akan semakin meningkat, sementara penghasilan relatif tetap. Yang terjadi kemudian bukan lagi aksi gali lubang tutup lubang, melainkan terperangkap di lubang utang yang semakin dalam. Kehidupan pun menjadi tidak tenang.

Orang selalu dikejar-kejar debt collector atau stres berkepanjangan karena masih banyak keinginan yang belum terpenuhi. Bukan tidak mungkin, karena permasalahan semakin kompleks, pekerjaan pun bisa hilang.

Itu baru kecelakaan finansial yang diakibatkan ketidakmampuan ”menginjak rem” konsumsi. Ada lagi kecelakaan finansial lain yang juga menerpa jutaan orang, yaitu ketidakmampuan menyediakan dana untuk membiayai sekolah anak. Dana untuk sekolah anak yang tidak disiapkan bisa mengakibatkan sang anak tidak sekolah.

Kalaupun bersekolah, akhirnya anak hanya bisa di sekolah yang kurang berkualitas. Atau sebenarnya, dana untuk anak sekolah sudah tersedia, tetapi karena dipengaruhi lingkungan sekitar, anak dipaksakan masuk ke sekolah yang super mahal. Demi menjaga gengsi, orangtua terpaksa berutang untuk membiayai sekolah anak.

Kecelakaan finansial bukan hanya dialami orang-orang berusia produktif. Tidak sedikit kecelakaan yang menerpa kalangan yang mestinya sudah dalam usia mapan. Seorang karyawan yang sudah terbiasa diberi fasilitas oleh perusahaan, seperti kendaraan dan rumah dinas, kerap kali lupa membeli rumah sendiri.

Ketika usia pensiun tiba, dia akan mengalami masalah besar karena tidak memiliki rumah ataupun kendaraan. Sebab, sepanjang karier, dia sudah terbiasa menggunakan fasilitas perusahaan. Masa pensiun yang seharusnya dinikmati justru memaksanya tetap bekerja guna memperoleh uang untuk membeli rumah dan kendaraan.

Jurus-jurus

Apa yang mesti dilakukan agar kecelakaan finansial tidak menghampiri diri Anda?

Pertama, jangan pernah berutang kalau tujuannya hanya untuk membiayai nafsu konsumtif. Utang hanya layak dilakukan untuk kegiatan produktif yang bisa memberikan penghasilan. Utang untuk hal konsumtif, seperti kredit rumah dan kredit kendaraan, dapat dipertimbangkan jika angsuran masih terpenuhi dari penghasilan bulanan.

Penggunaan kartu kredit sekalipun bukanlah untuk berutang, melainkan hanya untuk kemudahan transaksi pembayaran. Jadi, bukan karena tidak memiliki uang, tetapi lebih karena faktor kepraktisan belaka.

Kedua, melakukan investasi dan proteksi secara bersamaan. Banyak kalangan beranggapan bahwa kalau sudah berinvestasi, persoalan selesai. Pada kenyataannya tidaklah seperti itu. Dalam berinvestasi pun, banyak kemungkinan terjadi kecelakaan finansial.

Itulah sebab ada istilah ”jangan menempatkan investasi dalam satu keranjang”. Prinsipnya sederhana, kalau seluruh investasi Anda dalam bentuk saham, misalnya, ketika pasar saham anjlok, bukan tidak mungkin seluruh investasi Anda akan menguap.

Oleh karena itu, investasi mesti diproteksi. Bagaimana caranya? Sebarkan investasi pada berbagai jenis, mulai dari yang berisiko rendah, sedang, dan tinggi. Dengan cara ini, sebenarnya investasi Anda sudah terproteksi. Konkretnya, kalau investasi Anda yang berisiko tinggi mengalami masalah, Anda masih memiliki ”cadangan” investasi di jenis yang berisiko rendah.

Itu adalah proteksi dalam konteks investasi. Di luar itu, proteksi untuk mencegah dampak negatif dari kecelakaan finansial bisa juga dilakukan dengan membeli produk asuransi. Sebagaimana contoh di atas, orang kerap kali mengalami masalah dalam memenuhi biaya anak.

Nah, salah satu cara mudah menghindari kecelakaan finansial yang terkait dengan biaya sekolah anak adalah dengan membeli polis asuransi pendidikan. Selain itu, berbagai produk asuransi lainnya, termasuk asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan kerja, dan asuransi kematian, merupakan ”jurus” mengatasi risiko kecelakaan finansial.

Sebenarnya cukup banyak cara menghindari terjadinya kecelakaan finansial. Seperti kalau mengendarai kendaraan bermotor, sebelum dikendarai, tentu sebaiknya dilakukan pengecekan apakah segala sesuatu masih berfungsi dengan baik . Begitu juga dengan kegiatan finansial. Sebelum melakukan berbagai tindakan, tentunya mesti dipikirkan risiko dan kemungkinan terjadinya kecelakaan finansial.